Welly Sanjaya

Pelayanan Nyata di Tingkat Desa

Welly Sanjaya, adalah sosok yang menempuh perjalanan panjang dari aktivisme kampus hingga kepemimpinan di akar rumput. Semasa kuliah di Institut Pertanian Bogor, ia dikenal sebagai orator yang lantang menyuarakan aspirasi mahasiswa dalam berbagai aksi kritis. 

Di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri, Welly aktif turun ke jalan, memperjuangkan isu-isu yang menyentuh kehidupan rakyat banyak, mulai dari kebijakan harga bahan bakar minyak hingga listrik. Dari podium aksi itulah ia ditempa untuk berani bersuara, berpikir kritis, dan menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.

Selepas menyelesaikan studi pada Program Agribisnis IPB, Welly membawa idealismenya kembali ke tanah kelahiran, Desa Serang, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang. Pilihannya untuk pulang kampung bukan tanpa alasan. Ia percaya bahwa perubahan nyata justru harus dimulai dari lingkup yang paling dekat dengan masyarakat, yakni desa. Keputusan itu mengantarkannya terpilih sebagai Kepala Desa Serang, posisi yang memberinya kesempatan mengelola pembangunan desa secara langsung sekaligus berinteraksi dengan kebutuhan warganya sehari-hari.

Sebagai kepala desa, Welly berusaha mempraktikkan kepemimpinan yang tidak hanya administratif, tetapi juga partisipatif dan berorientasi pelayanan. Ia menekankan pentingnya program-program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam bidang ketahanan pangan, ia mendorong pemanfaatan lahan desa secara produktif agar kebutuhan pangan lokal tetap terjamin. Di bidang infrastruktur, ia mengalokasikan dana desa untuk pembangunan jalan, perbaikan tanggul, serta peningkatan fasilitas publik. Sementara dalam bidang sosial, ia aktif memfasilitasi Posyandu, PAUD, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu langkah nyata yang mencerminkan idealismenya adalah keputusan untuk menghibahkan sebidang tanah pribadi seluas sekitar 63 meter persegi pada tahun 2021. Tanah tersebut digunakan untuk pembangunan Posyandu di Desa Serang. Bagi Welly, kesehatan masyarakat adalah prioritas yang tidak bisa ditunda, dan pengorbanan pribadi demi fasilitas publik merupakan bukti nyata bahwa kepala desa harus hadir dan memberi teladan.

Kepemimpinannya mendapat pengakuan lebih luas ketika pada 24 Agustus 2022 ia terpilih sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (DPC APDESI) Kabupaten Sumedang periode 2022–2027. Pemilihan yang berlangsung di Islamic Center Sumedang itu diikuti oleh ratusan kepala desa dan menghasilkan Welly sebagai figur yang dipercaya memimpin organisasi. Jabatan ini memperluas perannya, tidak hanya mengurus satu desa, tetapi juga mewakili suara dan aspirasi seluruh kepala desa di kabupaten. Dalam kapasitas ini, ia aktif memperjuangkan kesejahteraan perangkat desa, mendorong peningkatan tunjangan, serta mengadvokasi kebijakan yang lebih berpihak pada pemerintahan desa.

Di masa pandemi COVID-19, Welly menunjukkan sebagai pemimpin. Ia memimpin gerakan pencegahan dengan membagikan masker, melakukan penyemprotan desinfektan, dan memberikan edukasi mengenai protokol kesehatan kepada warga. Selain itu, ia memastikan bahwa dana desa digunakan untuk mendukung masyarakat yang terdampak, baik melalui program bantuan langsung tunai maupun kegiatan padat karya. Respon cepat dan adaptif ini menegaskan komitmennya bahwa kepala desa adalah garda terdepan dalam menghadapi krisis.

Pengalaman panjang Welly sebagai aktivis kampus dan pemimpin desa membentuk sebuah benang merah: idealisme tidak berhenti di jalanan, tetapi bisa ditransformasikan ke dalam kebijakan nyata di tingkat lokal. Ia percaya bahwa kepemimpinan desa bukan sekadar menjalankan regulasi dari atas, melainkan juga menumbuhkan kemandirian, solidaritas, dan partisipasi warga. Dalam banyak kesempatan, ia menekankan bahwa desa harus menjadi basis kekuatan pembangunan nasional, karena disitulah kehidupan masyarakat berlangsung secara langsung dan nyata.

Dari Bogor hingga Sumedang, dari podium aksi mahasiswa hingga ruang rapat APDESI, perjalanan Welly Sanjaya memperlihatkan konsistensi seorang alumni IPB dalam mengawal perubahan. Ia menjadikan idealisme bukan hanya slogan, tetapi aksi nyata. Menghibahkan tanah pribadi untuk Posyandu, menggerakkan masyarakat di masa pandemi, serta memperjuangkan kesejahteraan perangkat desa adalah bukti bahwa kepemimpinan yang berangkat dari nurani dapat menghasilkan perubahan yang dirasakan oleh banyak orang.

Welly Sanjaya adalah teladan bahwa seorang pemimpin sejati tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan yang ia capai, melainkan dari seberapa besar dampak yang ia berikan bagi masyarakatnya. Ia membuktikan bahwa alumni IPB mampu berkontribusi bukan hanya dalam bidang akademik atau profesional, tetapi juga dalam ruang sosial-politik di tingkat lokal. Dengan terus memadukan idealisme dan kerja nyata, ia mewariskan inspirasi bagi generasi muda bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa.

Tinggalkan Komentar