Sriani Sujiprihati

Jejak Juang Penemu Pepaya Calina (California) Karya Nusantara

Dunia pemuliaan tanaman dan hortikultura Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sosok inspiratif Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati, MS. Lahir di Ponorogo, Jawa Timur pada tanggal 28 Oktober 1955, perempuan yang dikenal sebagai pribadi yang sabar, penyayang, tekun, dan ulet ini mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kemajuan pertanian bangsa. Awal mula karier akademisnya dimulai sebagai seorang dosen, hingga akhirnya ia mempelajari dan mendalami bidang pemuliaan tanaman selama lebih dari 24 tahun. Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan dibuktikan melalui rekam jejak akademis yang cemerlang, di mana ia menempuh pendidikan strata satu (S1) di Universitas Gadjah Mada (UGM), kemudian melanjutkan program magister (S2) di Institut Pertanian Bogor (IPB), dan berhasil meraih gelar Doktor (S3) di bidang pemuliaan tanaman dari Universiti Putra Malaysia (UPM) pada tahun 1997.

Sebagai seorang ilmuwan dari IPB, Sriani juga dipercaya mengemban amanah penting dalam struktur kelembagaan kampus, di antaranya sebagai Kepala Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman serta Kepala Divisi Pemuliaan Tanaman di Pusat Kajian Buah Tropika (KBT) atau Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB. Kiprahnya tidak hanya terbatas di lingkungan kampus, melainkan juga meluas ke berbagai organisasi profesi. Prof. Sriani tercatat aktif sebagai anggota dalam Perhimpunan Pemulia Tanaman Indonesia (PERIPI), Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI), dan Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI). Di tingkat kepengurusan, ia pernah menjabat sebagai Wakil Bendahara PERIPI Pusat, serta menjadi bagian penting sebagai anggota Komisi Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dan Komisi Nasional Sumber Daya Genetik.

Perjalanan monumental Sriani dalam merakit varietas unggul pepaya lokal dimulai sejak tahun 2001. Bersama dengan tim ilmuwan IPB, ia melakukan serangkaian penelitian intensif yang melibatkan pengumpulan bibit buah-buahan unggul dari berbagai daerah di Indonesia. Pada tahun 2003, Sriani secara masif mulai mengembangkan bibit pepaya dari berbagai varietas yang ada di wilayah nusantara seperti Aceh, Magelang, Boyolali, Sukabumi, Riau, Pontianak, Gorontalo, Dampit, dan Bogor, serta menyertakan varietas introduksi dari luar negeri seperti Malaysia, Thailand, dan Hawaii. Dalam buku berjudul Budi Daya Pepaya Unggul (2009) yang ditulisnya bersama Ketty Suketi, Sriani menjabarkan bahwa berbagai varietas tersebut dikumpulkan dan ditanam untuk dijadikan sebagai sumber plasma nutfah atau bahan genotipe dasar dalam merakit varietas unggul baru.

Setelah seluruh bahan genotipe terkumpul, tahapan selanjutnya yang dilakukan adalah evaluasi dan karakterisasi mendalam guna memperoleh data mengenai kelebihan dan kekurangan dari masing-masing genotipe. Agar hasil pemuliaan sesuai dengan keinginan konsumen, varietas pepaya kemudian dibentuk sesuai golongannya sendiri. Langkah ini mencakup jenis pepaya yang menyerbuk silang seperti Pepaya Wulung Bogor, Pepaya Boyolali, atau tipe besar lainnya, hingga jenis pepaya yang menyerbuk sendiri yang umumnya merupakan tipe kecil seperti Pepaya Hawaii. Guna menjaga kestabilan sifat tanaman agar mampu menghasilkan benih yang identik dengan induknya, karakterisasinya tetap, dan deskripsi awalnya tidak berubah, Sriani melakukan perbanyakan benih pada bibit yang ditanam di lahan terisolasi dari varietas lain dengan populasi minimal 200 pohon. Proses krusial ini memerlukan pembentukan galur murni selama tujuh hingga delapan generasi, yang memakan waktu setidaknya tujuh sampai delapan tahun, hingga dilakukan pengujian daya gabung di antara tetua yang disilangkan untuk memilih kombinasi terbaik.

Secara keseluruhan, kerja keras dan ketekunan yang dijalani oleh Prof. Sriani dan tim selama tujuh tahun tersebut berhasil merakit dan mengembangkan berbagai varietas pepaya unggul asli Indonesia, seperti Pepaya Arum, Pepaya Prima, Pepaya Sukma, Pepaya Carisya, dan Pepaya Calina. Rangkaian varietas unggul ini akhirnya resmi dilepas dan diresmikan pada tanggal 3 Oktober 2010 oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia kala itu, Dr. Suswono. Salah satu temuan yang paling fenomenal dan meledak di pasaran adalah Pepaya Calina, yang pada awalnya diberi kode riset IPB-9 yang diteliti oleh tim dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor, yang diperkenalkan pada 26 Mei 2010. Benih awal Pepaya Calina diperoleh dari seorang petani asal Bogor bernama Okim, yang saat itu mengklaim bahwa bibit tersebut berasal dari California, meskipun kebenarannya belum ditelusuri lebih lanjut. Berdasarkan klaim tersebut, varietas ini akhirnya dinamakan Calina yang merupakan akronim dari California-Indonesia.

Ketika Pepaya Calina mulai mendominasi supermarket dan toko-toko buah modern, para pedagang menerapkan strategi pemasaran dengan terus menggunakan label nama "California". Hal inilah yang memicu kesalahpahaman di benak masyarakat, sehingga para pembeli mengira buah tersebut diimpor dari California, Amerika Serikat. Seturut catatan Rohmat Kurnia dalam buku Fakta Seputar Pepaya (2018), Sriani pada satu kesempatan sempat merasa kecewa dengan penamaan komersial yang beredar luas di pasaran tersebut karena merasa identitas unsur lokalnya menjadi hilang. Kekecewaan tersebut timbul karena penamaan populer itu tidak dipatenkan secara hukum dagang. Kendati demikian, Sriani tetap merasa sangat bahagia dan bangga karena hasil kerja kerasnya terbukti nyata memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat luas, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan para petani.

Kehadiran Pepaya Calina dan varietas lainnya membawa dampak ekonomi yang sangat menguntungkan bagi para petani karena sifatnya yang produktif dan memberikan hasil yang menjanjikan. Di pasaran, Pepaya Calina dikenal dengan sebutan Pepaya California, sedangkan Pepaya Carisya lebih akrab dikenal sebagai Pepaya Hawaii atau Pepaya Havana. Tanaman komoditas unggulan ini memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari jenis lain, seperti tinggi batang pohon yang relatif pendek, masa panen yang cepat, serta penampilan warna buah yang sangat menarik. Dibandingkan dengan varietas pepaya pada umumnya, Pepaya Calina dapat tumbuh dengan sangat cepat dan mulai belajar berbuah pada usia empat bulan. Tiga bulan setelahnya, buah sudah bisa mulai dipanen secara rutin seminggu sekali, dengan masa produktivitas pohon yang mampu bertahan selama tiga hingga empat tahun.

Selain keunggulan dari sisi budidaya, Pepaya Calina juga sangat diminati oleh pasar buah dan digemari pembeli karena kualitas buahnya yang premium. Buah ini memiliki rasa yang sangat manis, daging buah yang tebal namun tetap lembut saat dikunyah, warna daging yang merah merona, bertekstur kokoh sehingga tahan lama dan tidak mudah membusuk, serta tidak mengeluarkan aroma khas pepaya yang kadang kurang disukai sebagian orang. Ukuran buahnya pun ideal dengan bobot rata-rata sekitar 1,3 kilogram, sebuah ukuran yang tidak terlalu besar sehingga sangat praktis untuk langsung dihabiskan dalam sekali konsumsi. Secara umum, buah pepaya sangat populer dikonsumsi dalam keadaan segar, diolah menjadi jus, atau dicampur ke dalam salad buah. Tidak hanya buahnya, bagian tanaman lain seperti daun pepaya juga sering dimanfaatkan sebagai bahan masakan tradisional maupun racikan obat-obatan herbal.

Jika menilik dari sejarahnya, pepaya sebenarnya merupakan tanaman asli dari wilayah tropis daratan Amerika yang diduga berpusat di Meksiko dan Nikaragua. Penyebarannya ke wilayah Asia dimulai pada abad ke-16 ketika orang-orang Spanyol membawanya ke Filipina, yang kemudian disebarluaskan ke wilayah Malaka dan berbagai kepulauan di Nusantara oleh bangsa Portugis, hingga akhirnya sebaran tanaman ini merata di sekitar Hawaii dan kepulauan Pasifik pada pertengahan abad ke-18. Saat ini, iklim tropis Indonesia yang cenderung hangat dan lembap memberikan kondisi lingkungan yang sangat cocok untuk pertumbuhan Pepaya California. Tanaman ini dapat tumbuh optimal pada daerah dengan ketinggian antara 700 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan curah hujan berkisar antara 1.000 hingga 2.000 milimeter per tahun.

Untuk teknis budidaya yang direkomendasikan, Pepaya California tumbuh baik di wilayah beriklim hangat dengan suhu udara berkisar antara 22 hingga 26 derajat Celsius serta tingkat kelembapan udara sekitar 40 persen. Sebagaimana dijelaskan oleh Yulian Harsono dalam buku Teknik Budi Daya Pepaya California (2021), tanaman ini tergolong tangguh karena masih dapat tumbuh dengan baik di wilayah beriklim kering dengan musim hujan pendek sekitar dua sampai lima bulan dan musim kemarau panjang berkisar enam sampai delapan bulan, asalkan kedalaman air tanahnya terjaga pada posisi 50 hingga 150 sentimeter. Dengan kondisi geografis Indonesia yang mendukung serta tingginya permintaan pasar domestik dan internasional, budidaya Pepaya California kini telah menjelma menjadi pilar penting dalam sektor pertanian buah nasional.

Nilai jual Pepaya California tidak hanya terletak pada rasanya yang lezat, tetapi juga pada khasiat kesehatannya yang melimpah berkat kandungan kaya vitamin dan zat antioksidan. Buah ini menyimpan nutrisi esensial seperti vitamin A, vitamin C, serat alami, kalsium, magnesium, dan kalium yang terbukti bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, melancarkan fungsi pencernaan, serta mendukung kesehatan jantung. Konsumsi buah ini secara teratur juga memberikan asupan likopen, enzim papain, dan zat antioksidan lainnya yang berkhasiat untuk melindungi kesehatan kulit, melancarkan metabolisme tubuh, sekaligus mendongkrak sistem imun manusia dari serangan penyakit. Manfaat yang komprehensif ini membuat kontribusi riset Sriani menjadi sangat bernilai bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.

Atas segala dedikasi, ketekunan, dan kontribusi nyatanya yang luar biasa di bidang pemuliaan tanaman, Prof. Sriani dianugerahi berbagai macam penghargaan bergengsi sepanjang kariernya. Apresiasi tersebut di antaranya datang dari Rektor IPB pada tahun 2004, dilanjutkan dengan diterimanya Riset Unggulan Strategis Nasional (Runas) Award 2004 dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek). Pada tahun 2006, ia menerima tanda kehormatan Satyalencana Karyasatya XX dari Presiden Republik Indonesia, penghargaan sebagai Dosen Berprestasi IPB, serta penghargaan bergengsi sebagai Dosen Berprestasi Nasional. Pemerintah kembali memberikan penghormatan atas dedikasinya melalui Penghargaan Kepedulian dan Penegakkan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Presiden RI pada tahun 2007, diikuti dengan Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa dari Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2009, serta penghargaan tertinggi dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada tahun 2010.

Sumbangsih nyata dari hasil pemuliaan tanaman yang dipelopori oleh Sriani beserta tim dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB ini juga dirasakan langsung oleh sektor korporasi perkebunan negara. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III tercatat sukses membudidayakan Pepaya California di atas lahan yang sangat luas mencapai 2.500 hektare, bahkan berhasil menembus pasar ekspor dengan mengirimkan sebanyak 5,95 ton buah segar ke berbagai negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di sela-sela kesibukan risetnya, Sriani tetap aktif menularkan ilmunya dengan mengajar serta menulis berbagai buku literatur dan jurnal ilmiah. Karya tulisnya yang berharga dan masih dapat dibaca hingga saat ini antara lain buku Budi Daya Pepaya Unggul (2009), Teknik Pemuliaan Tanaman (2012), serta publikasi artikel ilmiah di Pertanika Journal of Tropical Agricultural Science yang diterbitkan oleh Universiti Pertanian Malaysia Press dan Tropical Fruit News publikasi Cornell University.

Perjalanan hidup sang ilmuwan tangguh ini akhirnya harus berakhir ketika Prof. Sriani Sujiprihati wafat pada hari Selasa, 6 September 2011 di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Beliau berpulang dengan meninggalkan seorang suami, empat orang putra, dan seorang putri. Meskipun raga beliau telah tiada, Prof. Sriani meninggalkan warisan abadi berupa karya-karya monumental yang terus hidup dan membantu hajat hidup para petani. Pepaya Calina hasil rakitannya kini sukses dikembangkan di berbagai penjuru daerah dengan segala keunggulannya, sekaligus menorehkan catatan sejarah emas dan memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan pemuliaan tanaman buah-buahan di bumi Indonesia.

 

Tinggalkan Komentar