Satrio Hani Samudra

 

Mengabdi di Kedalaman, Berinovasi dengan Pengetahuan

Satrio Hani Samudra adalah sosok ilmuwan kelautan dan konservasionis yang mendedikasikan kariernya untuk memahami dan melindungi kekayaan hayati laut melalui pendekatan berbasis data dan teknologi mutakhir. Dikenal sebagai seorang Data and Knowledge Manager yang handal, Satrio mengombinasikan keahlian dalam ekologi laut, bioakustik bawah air, dan pemulihan terumbu karang. Perjalanannya sebagai seorang profesional dibentuk oleh latar belakang akademis yang cemerlang serta pengalaman lapangan yang luas, menjadikannya figur penting dalam upaya konservasi laut baik di tingkat nasional maupun internasional.

Langkah Satrio dalam dunia kelautan dimulai dari pendidikan formal di SMA Negeri 5 Bogor, di mana ia telah menunjukkan minat besar pada ilmu pengetahuan dengan menjabat sebagai Ketua Kelompok Ilmiah Remaja (KIR 5) periode 2017/2018. Gairah ini berlanjut saat ia menempuh studi sarjana di IPB University jurusan Ilmu Kelautan (2019-2023). Tak berhenti di sana, Satrio langsung melanjutkan studi Magister (S2) di institusi yang sama dengan raihan IPK yang sangat mengesankan, yakni 3.93/4.00. Puncak pencapaian akademisnya ditandai dengan terpilihnya Satrio sebagai penerima beasiswa bergengsi Chevening Award 2024/2025, yang membawanya meraih gelar MSc in Biodiversity and Global Change dari University College London (UCL) dengan predikat Distinction.

Pengalaman profesional Satrio mencerminkan kemampuannya dalam mengelola program-program konservasi yang kompleks. Sejak Juli 2025, ia mengemban amanah sebagai Data Manager di Blue Alliance Marine Protected Areas. Sebelumnya, pengalamannya yang paling menonjol adalah saat menjadi Postgraduate Student Researcher di Zoological Society of London (ZSL) pada tahun 2025. Di sana, ia memimpin riset kolaboratif bersama Ocean Predator Lab dan Save Our Seas Foundation yang memanfaatkan teknologi bioakustik dan kecerdasan buatan (AI) untuk memahami bagaimana hiu karang memengaruhi lanskap suara (soundscapes) di ekosistem terumbu karang.

Di Indonesia, kontribusi Satrio sangat nyata melalui perannya di Fisheries Resource Center of Indonesia (FRCI) selama lebih dari satu setengah tahun. Sebagai Program Support Consultant, ia mengoordinasikan asesmen Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di 12 lokasi pada empat provinsi, serta memimpin penulisan laporan pendekatan ekosistem untuk pengelolaan perikanan (EAFM) di Teluk Saleh, NTB. Keahlian teknisnya juga teruji saat ia bekerja sebagai Marine Data Analyst di Banggai Kepulauan, di mana ia melakukan identifikasi bentos dan kondisi terumbu karang menggunakan perangkat lunak statistik R dan PRIMER.

Jejak kariernya juga mencakup peran sebagai Field Officer di PADMI Mandiri di Riau, di mana ia merancang analisis kebutuhan pelatihan (TNA) berstandar BNSP yang melibatkan ratusan instruktur perikanan. Ia juga sempat berkarya sebagai Geomatics Engineer di Hatfield, Marine Surveyor di Pew Research Center, serta menjalankan fungsi manajerial sebagai Operations Manager dan pendidik di Vision Education and Personality Consultant. Di sisi lain, jiwa kepemimpinannya terasah melalui pengalaman sukarela sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan di Ekspedisi HIMITEKA, di mana ia memimpin eksplorasi biodiversitas laut skala nasional.

Selain piawai di laboratorium dan di depan layar data, Satrio adalah seorang praktisi lapangan sejati. Ia memegang gelar SSI Divemaster, serta memiliki sertifikasi Master Scuba Diver, Advanced Open Water, dan Specialty Diver. Keahlian ini didukung dengan sertifikasi internasional dalam manajemen data biologis dari UNESCO Ocean. Dedikasinya pun diakui melalui berbagai penghargaan, termasuk AEON 1% Scholarship Foundation dan keterlibatannya dalam organisasi seperti Banana Pirates dan Pionir Muda IPB.

Sebagai seorang penulis dan peneliti aktif, Satrio telah memublikasikan berbagai karya ilmiah penting yang menjadi rujukan dalam dunia konservasi. Beberapa publikasi utamanya antara lain studi tentang fenomena Harmful Algae Blooms (HABs) di Indonesia (2023), panduan praktis restorasi fragmen karang (rubble) yang diterbitkan oleh The University of Queensland (2024), serta artikel di jurnal ternama seperti Marine Environmental Research/Elsevier dan Journal of Environmental Management (2025). Melalui proyek-proyek seperti restorasi karang di Bali, Manado, Pulau Sangiang, hingga reservasi KKP di Pulau Buru Selatan, Satrio terus membuktikan bahwa sinergi antara ilmu pengetahuan, manajemen data yang sistematis, dan keterlibatan komunitas adalah kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut dunia.

Tinggalkan Komentar