Rokhmin Dahuri

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S.: Alumni IPB Memajukan Ekonomi Biru untuk Kedaulatan Maritim

Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S. lahir di Desa Gebang Ilir, Kabupaten Cirebon pada 16 November 1958 dan tumbuh di desa ini yang merupakan kampung nelayan. Ia adalah putra Bapak Dahuri, seorang nelayan sederhana yang tidak bersekolah; dan ibunya, Dasmirah hanya kelas I SD berprofesi sebagai pengolah dan pedagang ikan. Sehingga, nilai kesahajaan, gotong-royong, dan kerja keras mengakar sejak dini.

Sejak kecil ia akrab dengan ketidakpastian cuaca, ritme musim, dan fluktuasi harga ikan yang langsung memengaruhi penghidupan keluarga serta warga sekitar. Pengalaman itu membentuk empati sosial dan dorongan kuat untuk mencari ilmu sebagai alat pemecahan masalah nyata di pesisir. Kepala Desa (almarhum Pak Kurdi) dan ayahnya melihat kecerdasan dan kepekaan sosialnya, lalu menyarankan agar ia kuliah di Fakultas Perikanan IPB. Supaya, setelah lulus menjadi Insinyur (Sarjana) Perikanan dapat menolong para nelayan agar bisa hidup sejahtera.

Menurut Kepala Desa, sejak 1967 hingga 1976 (Rokhmin lulus terbaik, dengan nilai tertinggi dari SMA Negeri II Cirebon), Desa Gebang Ilir setiap tahun selalu menjadi tempat PKL (Praktik Kerja Lapang) maupun KKN (Kuliah Kerja Nyata) sejumlah mahasiswa Fakultas Perikanan IPB. Namun, tidak satu pun mahasiswa itu berasal dari keluarga nelayan.

Jejak Pendidikan dan Prestasi Akademik

Lulus dari SD Negeri Gebang Ilir – I pada 1970 dengan nilai tertinggi se-wilayah Cirebon Timur. Menamatkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri-I Ciledug di Babakan pada 1973, dengan nilai tertinggi. Lalu, melanjutkan ke SMA Negeri II di Kota Cirebon, dan lulus pada 1976 sebagai lulusan terbaik dan siswa teladan.

Pada 1977 diterima sebagai mahasiswa IPB melalui jalur prestasi, tanpa ujian masuk. Kemudian, lulus sebagai Sarjana Perikanan pada November 1981, dan diwisuda pada Maret 1982 sebagai lulusan terbaik dari Fakultas Perikanan IPB. Pada 1984 melanjutkan studinya pada Program S-2 (Magister Sains) di Fakultas Pasca Sarjana-IPB di bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan, dan lulus pada Maret 1986.

Kemudian, sejak September 1986 menempuh kuliah S-3 (Doktor) di bidang Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Lautan di School for Resources and Environmental Studies, Dalhousie University di Halifax, Nova Scotia, Canada; dan lulus meraih Ph.D (Doktor) pada November 1991. Disertasi Doktornya menelaah tentang metoda pemanfaatan sumber daya pesisir-laut secara optimal dan berkelanjutan (sustainable), dan peran konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) di pesisir-laut Kalimantan Timur sebagai kerangka kebijakan berbasis bukti.

Karier Akademik dan Pengabdian Nasional

Prof. Rokhmin Dahuri dikenal sebagai sosok akademisi, birokrat, dan tokoh nasional yang konsisten berkiprah dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan Indonesia. Sejak awal kariernya di IPB, beliau menapaki jenjang dari PNS golongan III/a hingga mencapai jabatan Guru Besar IV/b pada tahun 2002. Sebagai pendidik, ia meraih penghargaan ke-1 Dosen Teladan Tingkat Nasional pada tahun 1995.

Di lingkungan akademik, ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Pengelolaan Wilayah Pesisir PPLH IPB (1992–1995), Kepala Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan IPB (1996–1999), serta Wakil Dekan I dan Wakil Rektor IV IPB (1997–1999). Selain itu, beliau juga memimpin Program Studi Manajemen Sumberdaya Pesisir dan Lautan jenjang S-2 dan S-3 Sekolah Pascasarjana IPB (1997–2008).

Kiprahnya kemudian meluas ke tingkat nasional ketika dipercaya menjadi Direktur Jenderal Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (1999–2001), lalu diangkat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada Kabinet Persatuan Indonesia (Presiden KH. Abdurrahman Wahid) dan Kabinet Gotong-Royong (Presiden Megawati Soekarnoputri) periode 2001–2004. Selepas menjabat menteri, Prof. Rokhmin terus berkontribusi bagi pembangunan sektor maritim sebagai Ketua Komite Pengembangan Ekonomi Maritim KADIN Indonesia (2005–2008) dan menjabat berbagai posisi strategis di organisasi profesi nasional maupun internasional, antara lain ISOI, ISPIKANI, MPN, Asia Fisheries Society, UNEP Integrated Coastal Zone Management Network, hingga International Scientific Advisory Board of the University of Bremen.

Dedikasi Berkelanjutan dan Peran Legislatif

Hingga kini, Prof. Rokhmin terus menunjukkan dedikasinya terhadap kemajuan sektor kelautan, perikanan, dan kemaritiman Indonesia. Sejak 2011, beliau menjabat sebagai Presiden Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) serta Ketua Komite Tetap KADIN Indonesia Bidang Pengembangan dan Pemberdayaan Kelautan dan Perikanan (2018–sekarang). Ia juga menjadi penasihat pembangunan bidang agro-maritim di berbagai daerah, penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2009–2014; 2020–2023), dan sejak 2024 mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI Komisi IV. Pada tahun 2025, ia kembali memperkuat dunia pendidikan dengan menjabat sebagai Rektor Universitas UMMI Bogor, menegaskan dedikasinya untuk melahirkan generasi penerus bangsa yang unggul di bidang kemaritiman.

Nilai Keluarga dan Integritas

Sejak awal, keluarga telah menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, etos kerja unggul, akhlak mulia, serta iman dan takwa yang kuat. Dalam perjalanan hidupnya, ia membangun keluarga bersama Dr. Ir. Pigoselpi Anas Zaidan, yang dikenal semasa kuliah di Fakultas Perikanan IPB dan HMI Bogor. Dalam keluarga, mereka menanamkan pentingnya pendidikan, integritas, pengabdian, serta iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber makna hidup.

Anak-anak mereka — Sri Minawati (S-1 SMU Singapore dan S-2 University of Newcastle, UK), Dwi Mutia Ramdhini (alumni drg. Universitas Padjadjaran dan drg. Spesialis Anak Universitas Indonesia), Rahmania Kannesia (alumni Dokter Umum dan Dokter Spesialis Akupunktur Universitas Indonesia), serta Syfana Affiati (alumni S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan S2 The University of Queensland, Australia) tumbuh dalam lingkungan yang menjunjung tinggi nilai belajar dan kepedulian sosial. Kehidupan keluarga mereka menjadi ruang berbagi nilai, ilmu, dan keteladanan. Dalam kepemimpinannya, ia selalu berupaya menautkan laku spiritual, nalar ilmiah, dan profesionalisme kelembagaan agar setiap kebijakan yang diambil memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Pengembangan Kompetensi dan Literasi

Minat yang besar terhadap pengelolaan wilayah pesisir dan lautan mendorongnya untuk terus mengembangkan kompetensi lintas disiplin yang menggabungkan aspek ekologi, ekonomi, sosial, budaya, dan kelembagaan. Ia gemar membaca dan menulis sebagai sarana refleksi ilmiah serta penyebaran gagasan, di samping aktif memimpin pelatihan perencanaan zona pesisir terpadu agar ilmu terapan menjangkau lebih banyak kalangan.

Sejak 1991, ia tercatat sebagai pengajar kursus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tipe A, B, dan C di IPB, serta mengajar AMDAL dan audit lingkungan di Universitas Padjadjaran dan Universitas Indonesia. Ia juga menjadi course leader pelatihan Integrated Coastal Zone Planning and Management dalam program MREP yang melibatkan ADB, Ditjen Bangda, dan IPB menjembatani teori dan praktik dalam pengelolaan pesisir. Kombinasi bakat akademik, keterampilan melatih, dan kepekaan sosial menjadikannya sosok rujukan dalam perumusan kebijakan pesisir yang operasional dan berpihak kepada masyarakat pelaku utama.

Sebagai penulis yang sangat produktif, sejak masa mahasiswa hingga kini ia telah menerbitkan 19 buku dan berbagai artikel ilmiah di jurnal nasional maupun internasional. Tulisan-tulisan populernya pun kerap menghiasi media seperti Kompas, The Jakarta Post, Tempo, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, serta berbagai platform media sosial. Kiprahnya meluas dalam organisasi profesi dan kebijakan maritim, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia aktif di Dewan Maritim Indonesia dan Dewan Riset Nasional, serta memimpin Masyarakat Perikanan Nusantara dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia pada posisi strategis.

Di ranah internasional, ia terlibat dalam jejaring ilmiah seperti ICLARM Network of Tropical Fisheries Scientist dan Coastal Area Management and Planning Network di University of Rhode Island. Di kawasan Asia Pasifik, ia juga menjadi koordinator jejaring Coastal Zone Management yang berafiliasi dengan UNEP, menghadirkan perspektif Indonesia dalam kebijakan regional. Keterlibatannya dalam tim pakar biodiversitas laut, asosiasi resource modelling, dan dewan editorial publikasi ilmiah bidang manajemen pesisir semakin memperkuat kontribusinya dalam menjembatani sains dan kebijakan kelautan untuk keberlanjutan.

Penghargaan dan Pemikiran Strategis

Pengabdiannya di dunia akademik dan kebijakan publik memperoleh pengakuan dalam bentuk penghargaan dan amanah strategis. Pada 1995 ia menerima anugerah Dosen Teladan I Tingkat Nasional yang menegaskan reputasi dalam pengajaran dan riset terapan. Pada 1999 ia menerima Indonesian Development Award yang mencerminkan dampak gagasan kelautan dalam agenda pembangunan. Ia membimbing puluhan mahasiswa pada jenjang S1, S2, dan S3 di IPB serta universitas lain seperti UGM, ITB, dan UI sehingga kontribusinya pada regenerasi ilmuwan pesisir dan laut terukur secara nyata. Pada 2003 ia dikukuhkan sebagai guru besar dengan orasi ilmiah bertajuk "Paradigma Baru Pembangunan Indonesia Berbasis Kelautan" yang merumuskan arah kebijakan kelautan berorientasi keberlanjutan dan kesejahteraan.

IPB Sebagai Rumah Intelektual

IPB adalah rumah intelektual yang membentuk karakter ilmiah, keberanian berinovasi, dan semangat pengabdian. Atmosfer riset terapan dan budaya pemecahan masalah mengajarkan bahwa sains harus dekat dengan kebutuhan masyarakat, terutama nelayan dan petani. Pengalaman belajar dan mengajar menumbuhkan keyakinan bahwa kolaborasi lintas disiplin dan lintas kelembagaan merupakan kunci percepatan solusi. Jejaring alumni membuka ruang hilirisasi riset serta advokasi kebijakan berbasis bukti di tingkat lokal hingga nasional. Kesan sebagai alumni semakin kuat karena ia melihat IPB mampu menjadi jembatan yang mempertemukan ilmu dengan kesejahteraan pelaku utama yang selama ini kurang terwakili.

Harapan Masa Depan

Ia berharap IPB dan Himpunan Alumni kian menjadi simpul kolaborasi PENTAHELIX nasional dan internasional yang memadukan perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha (industri), komunitas, dan media massa. Riset serta inovasi di bidang Agro-Maritim, pangan, biofarmaka, dan energi terbarukan (bio-energy) berbasis AI, IoT, Big Data, dan Blockchain perlu diarahkan pada hilirisasi yang berdampak pada kesejahteraan nelayan dan petani serta penguatan daya saing industri berbasis sumber daya alam. Penguatan kapasitas manusia menjadi prasyarat agar inovasi tidak berhenti di laboratorium dan dapat diadopsi luas oleh pelaku utama. Jejaring alumni hendaknya memperkuat advokasi kebijakan berbasis data agar keputusan publik semakin berkualitas dan berkeadilan. Strategi afirmasi perlu diperluas agar lebih banyak putra-putri nelayan memasuki pendidikan tinggi perikanan sehingga ekosistem ilmu menjadi lebih representatif.

Penutup

Ia meyakini bahwa pengetahuan memperoleh maknanya ketika diwujudkan menjadi kebijakan dan aksi yang membawa maslahat bagi sesama. Integritas menjadi fondasi dalam menjalankan amanah akademik serta amanah publik yang menuntut konsistensi dan keberanian. Pengalaman lintas peran sebagai akademisi, teknokrat, menteri, penasihat, rektor, dan legislator menunjukkan bahwa pengabdian adalah proses panjang yang memerlukan ketekunan. Ia memandang kebahagiaan lahir dari kebermanfaatan bagi banyak orang terutama mereka yang kurang memiliki suara dalam proses pengambilan keputusan. Cara pandang tersebut menuntun langkahnya untuk terus menautkan sains, tata kelola, dan kesejahteraan rakyat sebagai satu kesatuan agenda pembangunan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar