Jejak Karir drh. Pujo Setio, dari Kedokteran Hewan ke Perekonomian Nasional
drh. Pujo Setio, M.Si, adalah contoh nyata dari alumni IPB yang telah memberikan kontribusi besar di berbagai bidang, mulai dari konservasi satwa liar hingga pengembangan kebijakan di tingkat pemerintahan. Setelah lulus program profesi di IPB, ia tidak hanya menjadi dokter hewan, tetapi juga seorang akademisi, praktisi, dan birokrasi.
Lahir di Jakarta pada 5 Juni 1968, Pujo Setio merupakan alumnus SMAN 1 Jakarta dan melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia memilih jurusan Kedokteran Hewan di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dan menyandang gelar drh tahun 1993.
Selanjutnya, gelar M.Si diperoleh dari FMIPA Universitas Indonesia tahun 2007. Selama Pendidikan di IPB, Pujo aktif di Organisasi Mahasiswa Angkatan/OMA (1987-1988), Ketua Senat FKH IPB dan Sekjen Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Hewan Indonesia/ISMAKAHI (1991-1992), serta terlibat dalam tim pembentukan dan pengurus Senat Mahasiswa IPB sebagai organisasi mahasiswa tingkat Perguruan Tinggi pertama setelah periode penghapusan Dewan Mahasiswa.
Karir Pertama, dari Bogor langsung ke Papua
Kehidupan profesional Pujo Setio dimulai dengan menjadi Tenaga Ahli sekaligus Pemimpin Bagian Proyek Taman Burung dan Taman Anggrek Biak di Papua/Irian Jaya (1993-1996), serta sebagai Ketua Kelompok Peneliti Perlindungan dan Pelestarian Sumber Daya Alam (SDA) di Balai Penelitian Kehutanan Manokwari (1999).
Pengalaman mengajar dan membimbing skripsi dilakukan di Fakultas Peternakan dan Fakultas MIPA Universitas Negeri Papua (UNIPA) di Manokwari (2001-2003) dan Balai Latihan Kehutanan (BLK) Manokwari (1996-2001).
Saat itu, ia berfokus pada konservasi satwa liar, khususnya burung dan hewan-hewan langka lainnya. Keberhasilannya dalam menangkar berbagai jenis burung langka, seperti Kasuari, Dara Mahkota, dan Cenderawasih, menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian alam.
Dia juga sebagai Ornitholog yang melaksanakan riset tentang burung-burung di wilayah Indonesia Timur dan mendampingi riset lapangan berbagai organisasi konservasi nasional dan internasional.
Dedikasinya di bidang konservasi dan pengelolaan sumber daya alam tak terelakkan, terbukti dengan penghargaan yang diterimanya, termasuk Wana Lestari Satya Nugraha pada tahun 1998 dari Menteri Kehutanan RI.
Setelah mengabdi sekitar 11 tahun di Papua, Pujo Setio kembali kantor pusat Kementerian Kehutanan sebagai peneliti (2004), sekaligus aktif dalam penugasan seperti Satuan Tugas Pengendalian Flu Burung pada Burung Liar dan Satwa Liar lainnya (2006), pengembangan penangkaran rusa timor (2008-2012), berbagai Tim Terpadu Perubahan Kawasan Hutan (2009-2019), Komite Kesehatan Satwa Liar (2014-2015), dan Tim Kebijakan Badan Litbang (2015-2020).
Pada tahun 2013 hingga 2017, Pujo Setio juga berkontribusi dalam menerbitkan berbagai hasil penelitian di bidang kehutanan melalui Penerbit Forda Press, yang bertujuan untuk menjembatani hasil penelitian di kalangan peneliti kehutanan.
Sebagai editor sekaligus Direktur Forda Press, berbagai buku sudah diterbitkan dan sudah banyak Peneliti Ahli Utama ataupun Profesor Riset yang memanfaatkan terbitan tersebut. Pujo juga menjadi Wakil ketua (2017-2018) dan Dewan Pertimbangan (2028-2020) IKAPI Cabang Bogor.
Karier sebagai Birokrat
Sejak diangkat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Kehutanan (1994), Ia mengabdi di Kementerian ini hingga tahun 2020. Pada November 2020, Pujo Setio melangkah lebih jauh dengan bergabung di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI dan dipercaya sebagai Asisten Deputi Pengembangan Agribisnis Peternakan dan Perikanan.
Ini merupakan langkah besar, mengingat Pujo Setio adalah dokter hewan pertama yang masuk sebagai ASN sekaligus pejabat pimpinan tinggi pratama di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Di sana, ia terlibat dalam penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan agribisnis, yang mencakup pengelolaan dari hulu hingga hilir. Adanya perubahan organisasi kementerian, Pujo pun dipercaya sebagai Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital, sekaligus Plt. Asisten Deputi Pengembangan Logistik Nasional sejak pertengahan Desember 2024.
Filosofi Ilmu untuk Solusi Tantangan
Filosofi hidup Pujo Setio sangat sederhana namun mendalam, yakni “Semua ilmu itu ada filosofinya. Saat kita mengetahui filosofinya, solusi dan strategi menjadi lebih mudah.” Filosofi ini telah membimbingnya sepanjang karier, baik di dunia konservasi maupun dalam bekerja di sektor pemerintahan.
Ia percaya bahwa sebelum memutuskan langkah-langkah besar, penting untuk memahami dahulu latar belakang dan kebutuhan yang ada. Bahkan dalam menyelesaikan masalah program dan kebijakan nasional, tugas mengkoordinasikan kementerian/lembaga dan berbagai kepentingan dilakukan oleh Pujo dengan memanfaatkan prinsip dan filosofi ilmu yang diperoleh dari IPB. Kombinasi dilakukan pula dengan pengalaman organisasi dan profesi yang dikembangkan selama berkarir.
Selain itu, Pujo Setio menekankan pentingnya kemampuan beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan yang ada. “Jangan takut dengan tantangan. Kita harus belajar untuk berakselerasi, bukan bergerak secara konvensional,” ujarnya.
Sebagai seorang yang telah berkarier lebih dari tiga dekade, ia terus berusaha untuk belajar hal-hal baru, bahkan di usia yang tidak muda lagi. Ia yakin bahwa dengan kemauan yang kuat, semua tantangan dapat dihadapi dengan cara yang lebih inovatif dan efektif.
Selain berhasil dalam kariernya, Pujo Setio juga menerima berbagai penghargaan yang menandakan dedikasinya di bidang konservasi dan pelayanan publik. Di antaranya, ia menerima Satyalancana Karya Satya untuk masa kerja 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun, yang merupakan penghargaan dari Presiden RI atas pengabdiannya di dunia pemerintahan.
Bagi generasi muda, terutama alumni IPB, Pujo Setio memberikan pesan penting. “Tantangan akan selalu ada, namun itu bukan alasan untuk berhenti belajar. Menghadapi tantangan dengan filosofi yang tepat, serta kemampuan beradaptasi dengan cepat, akan mengantarkan kita pada solusi yang tepat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan untuk selalu berpikir akseleratif, berani mengambil langkah besar, dan siap menghadapi segala perubahan yang datang.
Di usia 57 tahun, menjelang pensiun pada usia 60 tahun, Pujo Setio tetap aktif berkontribusi, selalu berusaha untuk memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan yang telah ia kumpulkan sepanjang karirnya untuk memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat.