Dari Jalanan Kampung ke Puncak Pimpinan
Dr. Ir. M. Edi Premono lahir di Kudus pada 6 Desember 1958, tumbuh dalam asuhan orang tua yang merupakan guru SD dengan penghasilan terbatas. Sebagai anak ketiga dari delapan bersaudara, ia melewati masa kecil yang riuh namun penuh kasih di lingkungan kampung yang sederhana. Meskipun hidup pas-pasan, Edi tak pernah merasa kekurangan karena prinsip "selalu merasa cukup" telah ditanamkan sejak dini. Kenangan yang paling membekas adalah kebiasaan ayahnya mendongeng sebelum tidur tentang tokoh legendaris seperti Sang Kancil dan Timun Emas, yang disisipi kisah sukses murid-murid sang ayah yang berhasil menjadi Profesor di IPB. Dongeng ini menjadi pemantik lamunan indah dan keyakinan kuat bahwa pendidikan serta kerja keras adalah kunci keberhasilan.
Perjalanan akademisnya dimulai dari SD dengan nilai terbaik pada tahun 1971, berlanjut ke SMPN 1 Kudus yang merupakan sekolah favorit. Pengalaman menjadi peserta Jambore Nasional pertama di Cibubur pada 1972 menjadi starting point penting yang menumbuhkan rasa percaya diri bahwa ia mampu berdiri sejajar dengan siapa pun. Saat duduk di bangku SMA, Edi sempat mengalami tantangan besar ketika harus pindah dari SMAN Kudus ke SMAN Salatiga mengikuti tugas ayahnya. Kurangnya waktu adaptasi membuat rapor triwulan pertamanya dipenuhi nilai merah, sebuah titik rendah yang ia sembunyikan dari orang tua. Namun, tantangan itu justru memicu semangatnya hingga nilainya melonjak drastis di triwulan berikutnya, yang kemudian membukakan jalan baginya untuk diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Setelah lulus dari IPB pada tahun 1982, Edi langsung diterima bekerja di Balai Penelitian Perusahaan Perkebunan Gula (BP3G) di Pasuruan, sebuah lembaga bersejarah peninggalan Belanda. Berkat dedikasi dan ketekunannya, hanya dalam satu tahun ia sudah dipercaya menjadi Kepala Kebun Percobaan di Lampung. Haus akan ilmu, Edi memutuskan melanjutkan studi S-2 di IPB dengan biaya sendiri pada 1987. Prestasinya yang luar biasa dengan IPK sempurna (4,0) menarik perhatian Prof. Goeswono Soepardi yang kemudian memberinya beasiswa penuh dan memintanya langsung menempuh program Doktor (S-3) tanpa harus menyelesaikan Magister. Ia lulus S-3 pada 1994 dengan predikat Cumlaude dan melanjutkan postdoctoral research di Göttingen University, Jerman, selama setahun.
Memasuki pertengahan 1990-an, krisis yang melanda P3GI mendorong Edi untuk mengambil keputusan besar menyeberang ke sektor swasta. Ia bergabung dengan Saraswanti Group, perusahaan pupuk NPK yang sudah ia kenal sejak lama. Kepercayaan dari pemilik perusahaan ia bayar dengan kinerja cemerlang, mulai dari Direktur Pengembangan hingga akhirnya memimpin Divisi Testing-Inspection-Certification (TIC) sejak 2016. Di bawah kepemimpinannya, ia membawahi lima perusahaan besar seperti PT SIG Laboratory, PT AAS, dan PT ASHA sebagai Direktur Utama, serta menjabat Komisaris di berbagai lini bisnis pupuk dan sawit. Baginya, penghargaan tertinggi bukanlah plakat formal, melainkan kepercayaan dan kepuasan tulus dari para pelanggan serta mitra kerja.
Di sisi personal, Edi adalah sosok suami dan ayah yang sangat hangat. Bersama istrinya, ia membesarkan dua orang anak yang kini telah sukses meniti karier masing-masing; anak sulungnya berkarier di Bappenas dan si bungsu menjadi dosen di IPB. Ia meneladani ayahnya dalam membangun komunikasi yang hidup di dalam keluarga, bahkan rela mengeluarkan biaya telepon yang besar saat bertugas jauh demi menjaga kemesraan dengan anak-anaknya. Prinsip hidupnya tetap sederhana: berpikir positif, bersyukur, dan selalu merasa cukup. Melalui hobinya di dunia golf bersama komunitas PGA-IPB, ia terus mengasah disiplin dan semangat tim. Bagi Edi, IPB adalah investasi sosial yang luar biasa, dan ia mendorong kolaborasi lintas generasi melalui HA-IPB agar kampus tetap memiliki denyut kehidupan di dunia industri.