Kiki Yuliati


Perumus SDM Unggul

Demi mendorong kekayaan intelektual, berbagai program dan bantuan diluncurkan oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Upaya strategis itu dititipkan ketika Mendikbudristek Nadiem Makarim melantik Kiki Yuliati sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) pada akhir Juni 2022 lalu.

Harapan yang diembankan kepada Kiki itu sebagai bagian dari dukungan 21 episode Gerakan Merdeka Belajar yang menyentuh semua jenjang pendidikan.

Sebagai Dirjen Diksi yang baru, Kiki diharapkan menyusun langkah-langkah strategis, mulai dari meningkatkan jumlah pendidikan dan pelatihan vokasi, perbaikan sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi, hingga penambahan jumlah lulusan vokasi yang memiliki sertifikat tenaga terampil.

Tak hanya itu, Kiki juga diminta menjalankan pendidikan dan pelatihan vokasi yang melibatkan swasta dan korporasi untuk membangun link and match bagi kebutuhan SDM.

Tantangan itu segera dijawab oleh Kiki dalam posisinya sebagai Dirjen Diksi Kemendikbudristek yang baru menggantikan Wikan Sakarinto.

Sebagai langkah awal, Kiki pun bersama Kemendikbudristek menggelar "Sosialisasi Program Bantuan Insentif Kekayaan Intelektual dan Artikel Ilmiah Internasional Bereputasi Dosen Vokasi TA 2022”.

"Bantuan insentif yang diberikan oleh Ditjen Diksi ini sebagai upaya untuk terus memotivasi dosen vokasi dalam menghasilkan kekayaan intelektual (KI) berupa paten serta penerbitan artikel bereputasi," jelas Kiki.

Kepada Kiki, Nadiem juga berharap untuk melanjutkan lima program unggulan yang dilaksanakan oleh Kemendikbudristek dalam menyelaraskan pendidikan vokasi dengan dunia industri.

Lima program unggulan yang digulirkan tersebut yaitu sertifikasi kompetensi dan profesi mahasiswa vokasi, program magang, program wirausaha, program kreativitas mahasiswa vokasi, dan program pemberdayaan masyarakat desa yang juga dibedah dalam sosialiasasi itu.

Kemendikbudristek tidak salah menaruh kepercayaan itu di pundak Kiki Yuliati. Pengalaman, latar pendidikan dan perjalanan kariernya telah membuat Kiki matang dan siap memangku tanggungjawab penting itu.
Sebagai Dirjen Diksi, Kiki memimpin tugas untuk menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pendidikan vokasi. Perjalanan dan kualitas Kiki Yuliati dinilai tepat menduduki posisi ini.

"Kita perlu memperbanyak jumlah pembelajaran berbasis industri atau teaching factory (tefa) dan memberikan kesempatan bagi praktisi agar dapat mengajar di SMK dan politeknik," ungkap Kiki.

Kiki menyelesaikan pendidikan jenjang S1-nya di IPB University pada 1986. Kemudian ia mengambil gelar Master of Science, Ilmu dan Teknologi Pangan, di North Carolina State University pada 1989-1992.

Ia kembali melanjutkan studi S3-nya di Indonesia dan mendapatkan beasiswa Pemerintah Republik Indonesia untuk kuliah Doktoral di IPB University pada bidang ilmu Teknologi Industri Pertanian dan lulus pada 2001.

Wanita kelahiran Bandung 5 Juli 1964 ini juga merupakan lektor kepala di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang. Di Unsri, ia sempat mengisi posisi sebagai Ketua Program Studi Pengolahan Hasil Perikanan 2001-2006.

Ia juga pernah menjadi Kepala Unit Pelaksana Teknis Penjaminan Mutu 2008-2013 di Unsri. Pada kurun waktu yang hampir bersamaan, ia juga menjadi Wakil Direktur Bidang Sertifikasi Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) Provinsi Sumatera Selatan (2007-2012).

Kariernya terus melaju hingga menjadi anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2014-2021). Pada masa menjadi anggota BSNP, dipercaya sebagai Sekretaris Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2017-2019).

Tak lama kemudian, ia pun menjadi Plt. Direktur Kemahasiswaan dan Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemdikbudristek (mulai bulan Januari 2022 hingga Mei 2022) dan akhirnya menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kemdikbudristek (2022-sekarang).

Sejak 1988 ia adalah dosen dan peneliti di Unsri. Ia juga merupakan reviewer untuk berbagai program pengembangan dan pengelolaan Perguruan Tinggi (PT) dari Dewan Pendidikan Tinggi sejak 2005 sampai sekarang.

Selama berkarier sebagai Dosen Universitas Sriwijaya diketahui Kiki juga mengikuti beberapa pelatihan, diantaranya dari Maastricht School of Management, Belanda (2009), kemudian dari Von Thurnen Institute, Braunsweig, Jerman (2011), Wageningen University, Belanda (2012) serta Higher Education Leadership and Management Project – USAID di Indonesia dan Thailand (2012).

Suami Kiki adalah Prof Robiyanto Hendro Susanto, seorang ahli gambut dan manajemen air yang ternama di Indonesia. Lulus dari faperta IPB, Program Studi Ilmu Tanah pada tahun 1984 kemudian menjadi dosen Program Studi Ilmu Tanah Universitas Sriwijaya sejak tahun 1985 sampai akhir hayatnya.
Robiyanto juga guru besar Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (Unsri) dan pernah menjabat sebagai anggota kelompok Ahli BRG (Badan Restorasi Gambut). Ia wafat di Palembang pada 9 September 2017.

Dari pernikahannya dengan Robiyanto, Kiki dikaruniai dua orang anak, Rosisnko Hiro Susanto dan Klanita Sabira.

Kini, tanggungjawab Kiki tak hanya mempersiapkan bekal bagi anak-anaknya, tetapi juga menyiapkan SDM dan generasi unggul bagi Indonesia dalam menjawab tantangan dan kompetisi era revolusi Industri 4.0.

Kiki berpesan, mahasiswa dan dosen harus sama-sama belajar dari lingkungan atau pengalaman, memperluas jejaring serta terkhusus mahasiswa ditekankan untuk memperdalam soft skill sesuai minat dan bakat.

“Diperlukan adanya link and match antara lulusan pendidikan tinggi bukan hanya dengan dunia usaha dan dunia industri saja tetapi juga dengan masa depan yang semakin cepat mengalami perubahan”, pungkasnya. **

 

Tinggalkan Komentar