Hasanuddin Atjo

Penemu Inovasi Tambak Supra Intensif

Kadis KP Provinsi Sulawesi Tengah Alumni IPB Angkatan : Lulus Tahun 1983 Jurusan/Fakultas : BDP/FPIK-S1

Alumni jurusan Budidaya Perikanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) 1983 ini tak pernah berhenti berinovasi. Kenyataan bahwa, banyak petambak yang masih mengandalkan pengalaman dalam berbudidaya menjadi dasar bagi sosok bernama lengkap Dr. Ir. Hasanuddin Atjo, MP untuk berinovasi.

Sosok yang akrab disapa Atjo ini bahkan telah aktif melakukan eksperimen sejak dibangku kuliah untuk menemukan formula pas bagaimana metode budidaya yang lebih efektif dan mampu memberi hasil yang lebih bagi petambak.

Hasilnya, Ketua Shrimp Club Indonesia Sulawesi ini berhasil menggagas budidaya udang dengan Model Supra Intensif. Konsepmya, dalam kolam bak semen ukuran 1.000 m2 ditebar 720 ribu ekor benur atau padat tebar 720 ekor/ m2 . Padahal belakangan ini padat tebar anjuran hanya 100 ekor/m2 . Rupanya padat tebar sebegitu tinggi masih belum cukup bagi Atjo. Pada siklus ke-6, di kolam yang sama setelah berbagai perbaikan, padat tebar kembali ditingkatkan menjadi 1.000 ekor/m2 . Fantastis, panennya 15,3 ton udang atau 153 ton/ha. Hasil itu, melebihi panen udang di Tiongkok dan Meksiko.

Lulusan program S2 dan S3 di Fakultas Ilmu kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin Makassar ini mengakui, Model Supra Intensif yang dibuatnya berawal dari keberadaan teknologi budidaya tambak udang saat ini yang belum mampu mendongkrak hasil panen.

Pria yang lahir 14 Mei 1960 di Poso, Sulawesi Tengah ini adalah sosok yang berkarakter pantang menyerah.

“Kita harus kerja keras, cerdas, selalu berinovasi, ikhlas, dan jujur”

Posisinya yang berada di pemerintahan, tak menguranginya untuk berkarya bagi masyarakat. Bahkan, Atjo berkomitmen dan bertekad untuk selalu menjadi yang terbaik dan mampu memberikan contoh nyata kepada rekan sejawat dan bawahan serta warga masyarakat.

Masih banyak impiannya untuk mengembangkan bidang perikanan. Selain terus berusaha berinovasi, Atjo pun tak sungkan membagikan ilmunya kepada khalayak. Pepatahnya mengatakan, “ibarat aki (baterai) kendaraan yang terus melepas energi guna menggerakkan sistem, aki tetap terisi energi listrik lagi.” Dan ia tak perlu takut untuk menunjukkan dan membagi ilmunya, justru dari sanalah ia meyakini ilmunya akan terus berkembang.

Lebih luas, hasratnya pun tak sebatas pengembangan perikanan dan kelautan di wilayahnya. Ia berbicara dengan yakin jika negeri ini ingin maju, aparatur negara yang jumlahnya banyak dan para pelaku usaha harus memiliki dua kapasitas, yakni sebagai transformator dan perancang skenario bisnis. Peran sebagai aparatur negara, mampu menangkap fenomena dan realita untuk dituangkan dalam perencanaan. Dan para pelaku usaha harus berimprovisasi mengikuti perubahan karena sesuatu yang pasti di dunia ini hanyalah perubahan.

Tinggalkan Komentar