Gregori Garnadi Hambali

Bapak Aglaonema Kebanggaan Indonesia

Gregori Garnadi Hambali, atau akrab disapa Greg Hambali, adalah nama yang tak asing bagi para pecinta tanaman hias di Indonesia. Alumni Biologi FMIPA IPB tahun 1973 ini dikenal luas sebagai Bapak Aglaonema Indonesia berkat keahlian dan dedikasinya dalam menyilangkan berbagai varietas tumbuhan, khususnya Aglaonema. Kisah hidupnya adalah inspirasi tentang bagaimana ketekunan dan kecintaan pada alam dapat menghasilkan karya monumental yang berdampak luas.

Lahir di Sukabumi pada 19 Februari 1949, Greg Hambali telah menunjukkan ketertarikan pada dunia botani sejak usia dini. Ia ingat betul bagaimana rasa penasarannya muncul saat mengamati pohon jeruk, mempertanyakan keberadaan benalu dan berbagai aspek lain dari pohon tersebut. 

Ketertarikan awal ini berkembang saat SMP, ketika ia pertama kali berhasil "mengawinkan" pohon pepaya yang tidak berbuah, menempelkan serbuk sari dari pohon lain untuk memunculkan buah. Pengalaman inilah yang menjadi titik balik dan memicu ketertarikannya pada bidang pemuliaan tanaman.

Pada tahun 1973, Greg Hambali memilih jurusan Biologi Pertanian IPB. Saat masih berstatus mahasiswa baru, ia direkrut oleh Dr. Mien A. Rifai, Kepala Herbarium Bogor dari Lembaga Biologi Nasional (sekarang LIPI). Pekerjaan paruh waktu ini memungkinkannya untuk tetap studi di IPB sambil mengasah kemampuan botani. 

Di LIPI, ia bertugas membantu identifikasi tanaman dan mencari penamaan ilmiah, sebuah fondasi penting yang membekalinya dengan pemahaman mendalam tentang kekerabatan antar tanaman, ilmu esensial dalam dunia persilangan. Greg juga sempat mendapatkan tawaran beasiswa dari British Council untuk studi Master of Science (MSc) di bidang Conservation and Utilization of Plant Genetic Resources di Universitas Birmingham, Inggris.

Meskipun telah berhasil menyilangkan berbagai jenis tumbuhan, Aglaonema adalah karya yang paling melekat dengan nama Greg Hambali. Titik balik ketertarikannya pada Aglaonema muncul setelah ia melihat pameran tanaman hias di Ancol pada tahun 1982. Terinspirasi dari sana, ia memulai eksperimen berani yang mengubah wajah dunia Aglaonema.

Pada tahun 1987, Greg Hambali melakukan persilangan antara Aglaonema commutatum tricolor dari Luzon, Filipina (sebagai induk betina) dengan Aglaonema rotundum dari Sumatera (sebagai induk jantan). Hasil persilangan monumental ini adalah Aglaonema “The Pride of Sumatera”. 

Inilah varietas Aglaonema berwarna merah pertama di dunia, suatu terobosan luar biasa mengingat umumnya Aglaonema berwarna hijau. Keberhasilannya ini melambungkan namanya ke seluruh dunia pada tahun 1990-an dan meraih juara dalam perlombaan di Belanda.

Karya Greg Hambali ini tidak hanya memukau para ahli, tetapi juga mendongkrak popularitas Aglaonema sebagai tanaman hias. Aglaonema “The Pride of Sumatera” awalnya bisa laku hingga Rp 3 juta per pot, harga yang sangat fantastis di era 1990-an. Bahkan, pedagang tanaman hias dari Thailand membanderolnya Rp 1,2 juta per daun. Greg juga mendapatkan royalti dari hasil karyanya ini setelah seorang produsen Amerika Serikat mendaftarkan hak paten namanya. Sampai sekarang, "The Pride of Sumatera" menjadi kebanggaan para pecinta tanaman, pengecer, dan pedagang tanaman hias.

Kiprah Greg Hambali sebagai pemulia tanaman tidak berhenti pada Aglaonema “The Pride of Sumatera”. Tercatat, ia telah menghasilkan 31 varietas Aglaonema yang telah didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman, Kementerian Pertanian RI. 

Salah satu varietas Aglaonema dari “The Big Five” bahkan berhasil dilelang dengan harga fantastis 660 juta rupiah. Aglaonema lain yang menjadi buah karyanya adalah Harlequin, dirilis tahun 2006 dengan harga Rp 660 juta per pot, serta Donna Carmen, atau dikenal sebagai Miss Adeliah di Indonesia, yang bisa mencapai harga Rp 100 juta per pot.

Kreativitas Greg Hambali melampaui Aglaonema. Ia juga berhasil menciptakan persilangan tanaman buah, seperti salak mawar, hasil persilangan antara salak varietas gula pasir, salak sidempuan, dan salak pondoh. Karya inovatif lainnya adalah “Nangkadak”, hasil persilangan nangka dengan cempedak yang dirilis tahun 2007 dan terus diperbarui hingga menghasilkan buah berdaging jingga pada 2015.

Berkat kiprahnya yang luar biasa, Greg Hambali mendapatkan penghargaan Anugerah Kekayaan Intelektual Luarbiasa (AKIL) dalam bidang Varietas Tanaman, mengukuhkan posisinya sebagai pemulia tanaman yang dihormati.

Gregori Garnadi Hambali berpulang pada Sabtu, 3 November 2023, di usia 74 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia botani Indonesia, tetapi warisannya akan terus hidup. Beragam varietas tanaman hasil karyanya, dengan nilai yang mencapai ratusan juta rupiah, tidak hanya memperkaya keanekaragaman hayati tetapi juga memengaruhi bisnis tanaman hias secara signifikan.

Sosok Greg Hambali adalah teladan bagi kita semua, membuktikan bahwa ketertarikan yang "ganjil" sekalipun, jika ditekuni dengan sepenuh hati, dapat menghasilkan karya-karya monumental yang memberikan dampak besar bagi masyarakat dan bahkan dunia. Ia adalah inspirasi nyata dari seorang alumnus IPB yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kecintaan pada alam.

Tinggalkan Komentar