Berani Berkarya untuk Kalbar Berdaya
Fransiscus Maria Agustinus Sibarani, atau yang akrab dikenal sebagai Franky Sibarani, merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang membawa visi besar melalui semangat "Barani Berkarya untuk Kalbar Berdaya". Lahir di Bandung pada 28 Agustus 1965 dan besar di Surabaya, Franky tumbuh dalam lingkungan keluarga Katolik yang sederhana namun sangat mengutamakan kedisiplinan serta kerja keras. Nilai kemandirian telah terpupuk sejak ia duduk di bangku SMA, di mana ia membiasakan diri menabung dari uang saku untuk membeli barang-barang yang diinginkannya. Ketertarikannya pada dunia agro berawal dari interaksi dengan orang tua sahabatnya yang merupakan konsultan agribisnis, serta kunjungan ke perkebunan di Glenmore, Banyuwangi, yang akhirnya memantapkan langkahnya untuk melanjutkan studi di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Meskipun nilai akademiknya di SMA Santa Maria Surabaya tergolong biasa saja, Franky memiliki tekad besar untuk masuk ke IPB tanpa tes. Ia mencoba peruntungan melalui Lomba Karya Ilmu Pengetahuan bagi Remaja (LKIPR) dengan penelitian unik mengenai pakan ayam dari tikus sawah yang dikeringkan, namun penelitian itu terpaksa berhenti karena insiden tak terduga di rumahnya. Atas arahan guru pembimbing, ia beralih meneliti kawasan wisata Trawas dan berhasil menemukan peninggalan era Majapahit yang belum tercatat oleh otoritas purbakala. Karya inilah yang membawanya lolos ke babak final dan menjadi tiket emas masuk ke Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Di kampus, ia memilih program studi Mekanisasi Pertanian dengan alasan praktis agar bisa segera lulus dan bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Masa kuliah di IPB menjadi fase krusial bagi Franky dalam membangun karakter kepemimpinan dan jejaring. Ia sangat aktif di berbagai organisasi, mulai dari menjadi Ketua Keluarga Mahasiswa Katolik IPB (KEMAKI), anggota Himpunan Mahasiswa Teknologi Pertanian (HIMATETA), hingga inisiator pembentukan Ikatan Mahasiswa Teknik Pertanian Indonesia (IMATETANI) setelah berkeliling ke berbagai kampus di Jawa. Selain mengasah kemampuan berpikir kritis melalui Forum Diskusi Agathis, Franky juga gigih mencari penghasilan tambahan dengan berjualan kaos dan atribut kampus, serta berhasil mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Jepang melalui Kemenpora. Di lingkungan IPB jugalah ia bertemu dengan belahan jiwanya, Indah Dewajani Nugrohoputri, yang kini telah memberinya tiga orang anak.
Karier profesional Franky dimulai di PT Astra Agro Lestari Tbk selama sepuluh tahun, yang menjadi fondasi kuat bagi pemahamannya di sektor agribisnis dari lapangan hingga manajerial. Setelah krisis 1998, ia sempat berkarier di Bali sebagai Direktur PT Bedugul sebelum akhirnya kembali ke Jakarta untuk bergabung dengan Garudafood Group. Selama satu dekade di sana, ia berperan sebagai Chief of Corporate Affairs yang menjembatani kepentingan dunia usaha dengan kebijakan publik melalui organisasi seperti GAPMMI, APINDO, dan KADIN. Keahliannya ini membuat ia dipercaya menjadi mitra konsultasi bagi kementerian sebelum akhirnya pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo memintanya secara langsung untuk memimpin Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Di bawah kepemimpinannya, BKPM melakukan revolusi melalui sistem perizinan online (SPIPISE), Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), hingga layanan investasi 3 jam yang sangat memudahkan investor.
Setelah masa tugasnya di pemerintahan berakhir, Franky tetap aktif memegang posisi strategis sebagai Komisaris Utama di PT TASPEN (Persero) dan PT Semen Baturaja Tbk, serta menjadi Tim Ahli di Kemenko Perekonomian. Panggilan untuk terjun ke politik muncul secara organik melalui keterlibatannya dalam pelayanan di Komisi Kerawam KWI, di mana ia aktif memberikan edukasi politik bagi umat. Atas dorongan tokoh masyarakat dan keprihatinan terhadap ketertinggalan serta ketimpangan hukum di Kalimantan Barat, ia memutuskan maju sebagai calon legislatif dari Partai Golkar untuk Dapil Kalbar I. Kini, sebagai anggota Komisi XIII DPR RI, Franky Sibarani terus mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan kesadaran hukum dan pemberdayaan masyarakat, sembari tetap memegang prinsip hidup bahwa memudahkan urusan orang lain adalah jalan menuju keberkahan dari Tuhan.