Mewujudkan Deep Ecology untuk Masa Depan Bumi
Di tengah arus modernisasi dan eksploitasi alam yang kian tak terkendali, nama Fauzan Alawy hadir sebagai sosok yang menyejukkan.
Alumni IPB University ini bukan sekadar aktivis lingkungan, melainkan seorang pemikir, pemimpin, dan visioner yang menjadikan hubungan spiritual antara manusia dan alam sebagai fondasi setiap langkahnya.
Melalui kiprahnya sebagai Founder & Director Serindit Philosophy Centre, sebuah Organisasi Penelitian dan Pendidikan Nirlaba (NPO) yang bergerak di bidang konservasi keanekaragaman hayati pulau-pulau kecil dalam wilayah bio-ekoregion Sundaland Hotspot. Alawy mengusung pendekatan holistic “Salus Naturae, Salus Populi” dimana kesejahteraan alam merupakan asas dari kesejahteraan manusia.
Jejak Pendidikan dan Akar Pemikiran di IPB
Alawy memulai perjalanan akademiknya di IPB University pada tahun 2011, mengambil Program Diploma Teknologi Manajemen Perkebunan. Di kampus inilah ia mendapat fondasi ilmiah untuk memahami sistem alam dan pengelolaan sumber daya.
Namun lebih dari itu, IPB juga menjadi tempat yang memicu pertanyaan-pertanyaan filosofisnya tentang paradigma manusia terhadap alam.
"Saya mulai mempertanyakan paradigma yang menempatkan alam hanya sebagai objek. Saya ingin melihat alam sebagai entitas hidup yang punya nilai dan martabat," ujar Alawy.
Pertemuan dengan pemikiran (deep ecology) sebuah Filsafat Lingkungan Hidup yang dikembangkan Arne Næss, 1970, menjadi titik balik penting. Ia terdorong untuk membangun cara pandang ekologis yang setara, saling menghormati, dan saling merawat antara manusia dan alam. Gagasan ini menjadi benih yang kelak tumbuh menjadi pusat filosofi Serindit.
Setelah menyelesaikan pendidikan di IPB, Alawy melanjutkan studi Sarjana Pemuliaan Tanaman di Universitas Andalas dan semakin memperkaya perspektifnya melalui riset, pendampingan komunitas, dan kerja-kerja lintas sektor.
Kiprah Profesional dan Kontribusi Nyata
Selama lebih dari satu dekade, Alawy aktif melahirkan berbagai inisiatif yang menjembatani ilmu, seni, dan kebijakan lingkungan. Sejak 2016, Fauzan Alawy aktif menggagas berbagai inisiatif yang memadukan seni, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Ia memulai dengan merintis Living Museum of Indonesia, lalu menjabat sebagai Chief of Designer di Pam-Techno hingga 2019.
Pada 2017, ia menginisiasi Kopitua dan turut dalam bagian Peoplelabs Residency and Festival, yang masih aktif hingga kini. Tahun 2018 menjadi titik penting dengan lahirnya Capricornis sumatrensis Artspace, Surau Institute, serta perannya sebagai Small Business Educator untuk Kementerian Hukum dan HAM. Ia juga aktif dalam R&D Digiplus 101 dan menjadi pendamping pariwisata berbasis komunitas sejak 2018.
Kiprahnya berlanjut dengan menjabat sebagai Direktur CV. Taprobana Percha Origin dan menggagas Residency Tourism Simarasok pada 2019, serta memimpin PT. Saliguri Minanga Bhumi (2019–2021) dan PT. Malaya Anucara Tani (2020–2023).
Ia juga mengembangkan pengalaman virtual bertajuk Indonesian Coffee Legacy bersama Airbnb. Tahun 2022, ia memulai Karas Isle Project, yang kemudian menjadi pijakan untuk mendirikan Serindit Philosophy Centre pada 2023, tempat ia kini berperan sebagai Founder dan Direktur, berfokus pada riset, pendidikan, dan pengembangan program berbasis kesadaran ekologis.
Gaya Kepemimpinan yang Lahir dari Alam
Dibesarkan dalam komunitas adat yang menjunjung tinggi falsafah “Alam Takambang Jadi Guru”, Alawy menerapkan kepemimpinan partisipatif dan reflektif.
"Pemimpin bukan pusat, tapi penjaga arah. Saya membuka ruang dialog dan mendengarkan suara-suara yang sering tak terdengar, termasuk anak-anak dan masyarakat lokal," jelasnya.
Ia melihat tim atau organisasi sebagai sebuah ekosistem hidup, dinamis, saling bergantung, dan perlu keseimbangan. Prinsip "servant leadership" juga dijalankan dengan penuh keteladanan dan empati.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Alawy bukan hanya membangun organisasi, tetapi menanam nilai. Baginya, warisan terpenting adalah kesadaran ekologis yang mendalam (deep ecology), salah satunya melalui pemulihan jiwa, pikiran, dan perasaan manusia ke kondisi alami, dan terhubung erat dengan alam (inner rewilding).
Ia bercita-cita mendirikan sekolah berbasis alam yang menggabungkan pendekatan hunter-gatherer, pedagogi Mother Nature, dan filosofi lokal. Sekolah ini akan menjadi ruang bebas, di mana anak-anak belajar langsung dari alam, menghubungkan intelek, emosi, dan spiritualitas mereka secara utuh.
Selain itu, ia ingin menciptakan sanctuary/refugia untuk spesies tumbuhan dan satwa asli Indonesia, ruang aman bagi alam untuk pulih, berkembang, dan dihormati keberadaannya.
Filosofi Hidup: Salus Naturae Salus Populi
Filosofi hidup alawy terangkum dalam semboyan Latin yang ia junjung tinggi: “Salus naturae salus populi”—kesejahteraan alam adalah asas kesejahteraan manusia.
“Menyatu dengan alam bukan hanya keperluan ekologis, tapi juga kebutuhan jiwa. Ini bukan sekadar strategi kerja, tapi panggilan untuk merawat kehidupan secara menyeluruh dan berkelanjutan,” tutupnya.
Fauzan Alawy, seorang alumni IPB tidak hanya menjadi ahli di bidangnya, tapi juga penjaga nilai, pemimpin kolaboratif, dan penggerak lingkungan.
Ia mengajarkan bahwa masa depan bukan hanya soal teknologi atau ekonomi, namun soal keberanian untuk kembali menyatu dengan alam dan menghormatinya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari diri.