Santri Intelektual yang Menapaki Jalan Pengabdian sebagai Wamen Koperasi
Farida Farichah, M.Si., lahir di Grobogan pada 20 Juli 1986, tumbuh dalam lingkungan religius Nahdlatul Ulama (NU) yang menanamkan nilai keseimbangan antara ilmu dan akhlak. Didikan orang tuanya mengenai kejujuran dan kerja keras membentuk karakter disiplin yang ia bawa hingga kini melalui prinsip berilmu untuk berbakti dan mengabdi demi memberi manfaat bagi bangsa.
Perjalanan pendidikannya dimulai dari SDN 01 Putatsari, MTs Yarobi, hingga SMU Negeri 1 Grobogan, di mana ia juga aktif mengajar ngaji di madrasah diniyah atas arahan ayahnya yang merupakan seorang Kyai. Kedekatannya dengan dunia pesantren dan organisasi kepemudaan seperti OSIS dan Pramuka telah mengasah jiwa kepemimpinannya sejak usia remaja.
Pendidikan tinggi Farida diawali di Universitas Negeri Semarang pada Program Studi Pendidikan Kimia (2004-2008), di mana ia aktif sebagai asisten praktikum sebelum melanjutkan studi Magister Sains Kimia di Institut Pertanian Bogor (2009-2011). Di IPB, ia meraih predikat cumlaude melalui riset nanoteknologi yang diakui secara akademik.
Selain pendidikan formal, ia memperdalam spiritualitasnya di beberapa pesantren, termasuk PP Ahlussunnah Wal Jama’ah dan PP Al-Ibriz. Karier profesionalnya dimulai sebagai guru Kimia di MA Al Nahdlah, yang kemudian berlanjut ke ranah pemerintahan sebagai Asisten Ahli di Kementerian Desa (2012–2014) serta menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI selama satu dekade (2014–2024). Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam mengenai kebijakan publik dan pemberdayaan masyarakat desa.
Kiprah organisasinya sangat menonjol, terutama saat menjabat sebagai Ketua Umum PP IPPNU (2012–2015) dan berlanjut sebagai Wakil Sekretaris PP Fatayat NU (2022–2027). Farida juga memegang posisi strategis di KNPI, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta aktif dalam koperasi Perempuan Bangsa.
Di level internasional, ia pernah menjadi delegasi Indonesia pada forum OKI di Turki dan Doha Interfaith Conference di Qatar, yang memperluas jejaring globalnya sebagai tokoh muda NU. Di sela kesibukannya, ia tetap menjaga harmoni hidup melalui latihan pilates, yoga, serta kegemarannya menonton film bertema kemanusiaan untuk menjaga fokus dan refleksi diri.
Bagi Farida, IPB merupakan rumah intelektual yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Ia berharap IPB dan himpunan alumninya (HA-IPB) terus menjadi simpul kolaborasi yang nyata untuk inovasi sosial dan kewirausahaan, khususnya di pedesaan. Pesannya kepada mahasiswa adalah untuk menjadi pencari makna agar ilmu yang didapat benar-benar hidup dan bermanfaat. Ia percaya sinergi antara akademisi dan masyarakat adalah kunci bagi kemajuan bangsa yang berakar kuat pada nilai lokal namun berwawasan global.
Puncak pengabdiannya terjadi pada 17 September 2025, saat Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Koperasi Republik Indonesia. Dalam jabatan ini, Farida mengemban amanah untuk menerjemahkan visi Presiden dalam membangun ekonomi dari bawah melalui transformasi digital koperasi, pemberdayaan perempuan, dan penguatan koperasi berbasis pesantren.
Ia berkomitmen menjadikan koperasi sebagai gerakan sosial yang nyata untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Dengan semangat santri dan ketekunan ilmuwan, Farida Farichah terus melangkah demi mewujudkan ekonomi rakyat yang berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045.