Endro Hermono

Lulus Kuliah untuk Siap Menangkap Kesempatan

Endro Hermono lahir di Blitar pada 10 Oktober 1958 dari pasangan Denny Mochamad Roshadi, seorang pengusaha perkebunan, dan Romingah, seorang guru SD. Sejak masa kanak-kanak, ia sudah terbiasa dengan candaan rekan sebayanya mengenai nama “Endro Hermono” yang sering diplesetkan, namun hal tersebut justru membentuk karakter Endro menjadi pribadi yang tangguh, tegar, dan mampu menerima humor sebagai bagian dari kehidupan.

Pengalaman menghadapi ketidakpastian sudah ia rasakan sejak duduk di kelas 1 SDN Ngegok 2 ketika letusan Gunung Kelud memaksa sekolahnya libur panjang, sebuah peristiwa yang kelak membekali mentalnya dalam menghadapi tantangan dunia usaha maupun politik. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Blitar, ia mengejar cita-citanya menjadi insinyur pertanian dengan masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1978 melalui jalur PMDK. Selama masa kuliah, ia aktif dalam pergerakan mahasiswa yang menumbuhkan kesadaran sosial dan keberanian sebelum akhirnya lulus sebagai Sarjana Pertanian jurusan Ilmu Tanah pada tahun 1982.

Selepas wisuda, Endro memilih jalur wirausaha daripada menjadi pegawai negeri sipil, mengikuti anjuran para dosen untuk mampu menciptakan lapangan kerja. Ia mengelola perusahaan perkebunan keluarga, PT Harta Mulia, namun tanggung jawab besar langsung diembannya saat sang ayah meninggal dunia ketika ia baru berusia 24 tahun. Tantangan berat kembali menguji Endro pada 10 Februari 1990 saat Gunung Kelud meletus dan memporak-porandakan pabrik serta lahan kopi dan cengkeh miliknya.

Dengan memanfaatkan pengetahuan pertaniannya, ia melakukan inovasi dengan menanam pepaya Bangkok yang cepat menghasilkan, yang kemudian menjadi modal awal untuk mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Harta Raya Cipta Mulia. Sadar akan keterbatasan di bidang finansial, ia menempuh pendidikan MBA di Jakarta Institute of Management (JIMS), yang terbukti efektif meningkatkan manajemen BPR hingga asetnya tumbuh lebih dari 40.000% dengan berpegang pada prinsip “banyak teman, banyak rezeki”.

Keinginan untuk memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat mendorong Endro terjun ke dunia politik. Pada periode 2005–2010, ia terpilih sebagai Wakil Walikota Blitar mendampingi Djarot Saiful Hidayat, di mana ia berhasil menjalankan berbagai program inovatif seperti "Durenisasi" dan pembinaan budidaya anggrek bagi PKK.

Karier politiknya berlanjut pada 2011 saat ia memimpin DPC Partai Gerindra Kota Blitar dan kemudian terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2014 mewakili Daerah Pemilihan Jawa Timur VI. Selama menjabat di DPR, ia fokus memajukan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan melalui modernisasi alat pertanian, distribusi bibit unggul, serta pembinaan kampung nelayan, mencerminkan pemahaman mendalam tentang manajemen sumber daya yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di IPB.

Keberhasilan Endro tidak lepas dari dukungan keluarganya, termasuk sang istri, Ir. Tri Agustin Satriani, M.M., dan kedua putranya yang meniti karier akademik cemerlang, yakni Prof. Dr. Rer Pol. Rangga Handika, Ph.D. dan dr. Ryan Herrardi, Sp.PD.Subsp.GEH(K), FINASIM. Sepanjang hidupnya, ia memegang teguh filosofi bahwa pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan persiapan untuk menghadapi dunia nyata dan memberi dampak positif bagi masyarakat.

Baginya, keberuntungan bukanlah faktor nasib semata, melainkan hasil dari persiapan yang matang saat kesempatan datang. Perjalanan panjang Endro Hermono dari seorang anak di Blitar hingga menjadi anggota legislatif nasional membuktikan bahwa dengan kerja keras, jejaring yang luas, dan kemampuan beradaptasi, seorang alumni dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.

Tinggalkan Komentar