Endang Setyawati Thohari

Mengabdi untuk Kedaulatan Pangan dan Pemberdayaan Perempuan Indonesia

 

Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, DESS, M.Sc., lahir di Cirebon pada 24 Agustus 1948. Masa kecilnya yang akrab dengan sapaan Tati Ismail dihabiskan dalam asuhan keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, disiplin, dan pengabdian. Kedua orang tuanya, R.M. Ismail Said Martodidjojo dan R.A. Kunmrati Prawirodihardjo, menanamkan semangat belajar serta rasa nasionalisme yang kuat sejak dini. Dalam lingkungan yang sederhana namun penuh kasih, ia telah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap alam dan kehidupan pedesaan. Minat inilah yang kemudian menjadi kompas moral dalam meniti jalan pengabdian di bidang pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa hingga saat ini.

Perjalanan akademiknya dimulai dari Sekolah Rakyat Negeri Pegambiran, kemudian berlanjut ke SMP Negeri 1 Cirebon dan SMA Negeri 1 Cirebon. Ketekunannya membawa ia menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang, yang saat itu berafiliasi dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada tahun 1968, ia mulai mendalami studi pertanian secara profesional dan menulis karya ilmiah berjudul Peranan Alang-Alang terhadap Makanan Sapi Pedaging. Setelah meraih gelar Insinyur Pertanian, ia bergabung dengan Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian dan melanjutkan studi magister di IPB. Kecerdasannya membawa ia meraih beasiswa dari Badan Litbang Kementerian Pertanian untuk belajar di Université Montpellier I, Prancis. Di sana, ia meraih gelar Diplôme d’Études Supérieures Spécialisées (DESS) serta gelar doktor dengan disertasi mengenai peranan kredit pertanian terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Selama menetap di Prancis, ia tidak hanya fokus pada studi formal, tetapi juga aktif dalam organisasi internasional. Ia menjabat sebagai Presiden Association de Promotion Economie Rurale (APER) dan Presiden Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Prancis. Pengalaman internasional ini memperkuat kemampuan diplomasinya, yang terbukti saat ia dipercaya mendampingi Presiden Soeharto sebagai penerjemah bahasa Prancis dalam pertemuan dengan para kepala negara Afrika. Momen bersejarah tersebut terjadi saat Indonesia menerima penghargaan dari FAO atas keberhasilan mencapai swasembada pangan, di mana ia berperan memperkenalkan prestasi besar bangsa di kancah dunia.

Sekembalinya ke tanah air, ia mendedikasikan ilmunya di Kementerian Pertanian dengan menduduki berbagai posisi strategis, seperti Direktur ARM I & II, Kepala Pusat Pembiayaan Pertanian, serta Direktur Pembiayaan dan Permodalan Pertanian. Pengalaman panjang ini menjadikannya salah satu perancang utama sistem pembiayaan petani di Indonesia. Karier profesionalnya kemudian meluas ke ranah legislatif. Sejak tahun 2019, ia terpilih sebagai Anggota DPR RI Komisi IV dari Fraksi Partai Gerindra untuk daerah pemilihan Jawa Barat III yang meliputi Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, dan kembali dipercaya untuk periode 2024–2029. Di parlemen, ia terus konsisten memperjuangkan kedaulatan pangan, kesejahteraan petani, dan akses energi sebagai fondasi kemandirian bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Di samping kesibukan politik, ia juga memberikan kontribusi besar di dunia pendidikan sebagai Anggota Wali Amanah dan Dewan Pakar di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), institusi yang didirikan oleh Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. Ia merasa bangga atas kemajuan UKRI yang kini banyak melahirkan lulusan perempuan berprestasi. Di sela aktivitasnya, ia tetap menjaga harmoni keluarga bersama suami, Dr. Ir. H. A. Machmud Thohari, DEA, serta putra dan cucu-cucunya. Bagi sosok yang tetap bugar melalui olahraga renang di usia 77 tahun ini, IPB adalah rumah intelektual yang menanamkan karakter kerja keras dan integritas. Ia meyakini bahwa pengabdian sejati adalah bekerja dengan hati untuk memberikan manfaat nyata bagi orang lain dan tanah air.

Tinggalkan Komentar