Endah Sri Redjeki

Menatap Masa Depan Pangan Lewat Kacang Bambara

Ir. Endah Sri Redjeki, MP, MPhil merupakan seorang akademisi, peneliti, dan pemimpin di bidang pertanian yang memiliki rekam jejak panjang serta dedikasi mendalam terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. Fondasi keilmuannya dibangun melalui jenjang pendidikan tinggi yang solid di ranah teknologi pertanian dan ilmu tanaman. Perjalanan akademisnya dimulai ketika beliau menempuh pendidikan jenjang Sarjana (S1) di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Seed and Technology dari tahun 1982 hingga lulus pada tahun 1987. Keinginan yang kuat untuk terus memperdalam pengetahuannya mendorong beliau melangkah ke jenjang Magister (S2) di Universitas Brawijaya dengan fokus pada bidang Plant Sciences pada rentang tahun 2002 hingga 2004. Tidak berhenti di situ, kepakarannya semakin teruji dan diperkuat ketika beliau menempuh pendidikan doktor di University of Nottingham pada tahun 2008 hingga 2014, sebuah pengalaman internasional yang kian memperluas cakrawala berpikirnya dalam kancah riset global.

Sebelum mendedikasikan hidupnya secara penuh di dunia akademis dan penelitian, Endah Sri Redjeki sempat mencicipi pengalaman di dunia jurnalistik. Beliau mengawali perjalanan profesionalnya sebagai seorang Journalist di Menara Bangun Tanindo yang berlokasi di Jakarta, Jakarta Raya, Indonesia, selama tiga bulan, terhitung sejak bulan Desember 1988 hingga Februari 1989. Meski terbilang singkat, pengalaman jurnalistik ini menjadi modal berharga dalam membentuk pola pikir kritis, ketajaman analisis, serta kemampuan komunikasi yang sangat mendukung peran dan kepemimpinannya di masa-masa mendatang.

Kiprah kepemimpinan wanita yang akrab disapa Endah ini di dunia pendidikan tinggi dan lembaga penelitian mulai menorehkan jejak yang sangat signifikan sejak tahun 2013. Beliau dipercaya memangku jabatan sebagai Head of Research Institute di Universitas Muhammadiyah Gresik sejak bulan Juni 2013 hingga saat ini. Dalam peran tersebut, beliau bertanggung jawab memimpin penelitian dan pengembangan melalui berbagai kolaborasi riset, baik dengan kemitraan tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Pada rentang waktu yang hampir bersamaan, yakni sejak bulan November 2013 hingga sekarang, beliau juga memegang amanah strategis sebagai Director di Bambara Groundnut Research Centre (BGRC), sebuah pusat penelitian yang berdedikasi pada pengembangan komoditas kacang bambara. Tanggung jawab kepemimpinannya semakin lengkap saat beliau dipercaya menjabat sebagai Dean of Agricultural Faculty di Universitas Muhammadiyah Gresik sejak bulan Juli 2017 hingga saat ini.

Komitmen Endah terhadap komoditas kacang bambara (Bambara groundnut) sendiri memiliki sejarah yang sangat panjang. Beliau telah meneliti dan mengembangkan kacang bambara sejak tahun 1988 dan terus konsisten mengerjakan komoditas tersebut hingga kini, terutama pada fokus pemuliaan (breeding), agronomi, sosio-ekonomi, serta pemanfaatannya. Dalam pandangannya, kacang bambara dapat dimanfaatkan sebagai tanaman nirlimbah (zero waste crop) apabila mampu dikelola secara menyeluruh. Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari tanaman ini untuk mengurangi kemiskinan, mengatasi masalah kurang gizi (malnutrition), sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Tidak hanya konsen melakukan penelitian dan mengajak masyarakat petani Gresik membudidayakan kacang bambara atau bambara groundnut saja, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ini mulai mengajak masyarakat petani melakukan food production tanaman yang berasal dari suku Bambara di Afrika ini. Endah menegaskan bahwa sudah saatnya petani mengolah kacang bambara yang mereka tanam, karena selama ini petani hanya menjual dalam bentuk fresh pod (polong segar), padahal dengan diolah menjadi makanan maka nilai ekonominya akan meningkat secara signifikan. Sebagai bentuk bukti nyata, beliau memamerkan aneka produk olahan dari kacang bambara, di antaranya bisa diolah menjadi susu, tempe, kacang goreng, brownies, cookies, dan lain-lain. Bahkan, kacang bambara bisa dimanfaatkan untuk bubur bayi, apalagi jika disinergikan dengan lele yang diambil minyaknya yang mengandung Omega 3, sehingga dapat menggantikan bahan bubur bayi yang selama ini masih diimpor.

Untuk mewujudkan gagasan besar tersebut, Direktur Bambara Groundnut Research Centre ini merasa sangat perlu dibentuk suatu kelembagaan. Pasalnya, ketiadaan kelembagaan inilah yang membuat petani tidak memiliki bargaining power, karena tidak mempunyai kekuatan di bidang pembiayaan maupun kekuatan dalam hal pemasaran. Beliau mengamati bahwa selama ini masalah pemasaran belum dikelola secara terintegrasi, melainkan masih parsial dan konvensional. Padahal, kacang bambara memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi komoditi unggulan Gresik. Harapan besarnya adalah adanya perhatian dari para stakeholder untuk kemajuan Gresik di bidang pangan melalui penciptaan keanekaragaman pangan, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada beras sebagai makanan utama, tetapi juga mulai memperhatikan dan mengoptimalkan kearifan lokal yang dimiliki.

Tinggalkan Komentar