Berkat Aquatic, Sukses Jadi Eksportir Muda
Usia muda tak membuat ia bersantai dan terkungkung menikmati zona nyaman. Saat menghadapi kesulitan, justru tak menjadikannya berdiam diri. Saat masih berstatus mahasiswa jurusan Agribisnis IPB University, ia mengamati usaha ikan hias berprospek cerah. Ia pun mulai bergerak.
Bermodalkan ilmu dari sang ayah dan pelajaran mata kuliah yang ia peroleh di kampusnya, ia memberanikan diri memulai usaha ikan hias dan langsung membidik pasar luar negeri sebagai target penjualan ikan hiasnya.
Begitulah langkah Chivalry Pranoto, lelaki kelahiran 2 Februari 1980 ini dikenal sukses selagi masih muda. Berkat usaha dan kerja kerasnya, omzetnya bisa mencapai Rp 200 juta/bulan.
Awal mula perjalanan karier Ai – begitu ia biasa disapa, dimulai sejak lama. Ketika itu, ayahnya memiliki bisnis yang bergerak di bidang pakan ternak yang terkena imbas krisis ekonomi pada 1997 - 1998.
“Agar dapat memenuhi kebutuhan hidup, ayah mencoba peruntungannya dengan menggeluti usaha ikan hias,” ungkap Ai.
Usaha tersebut dipilih ayahnya karena tidak membutuhkan modal besar dan pasarnya bisa sampai luar negeri. Usaha ikan hias yang dikelola ayahnya bisa berkembang dan mampu melewati krisis ekonomi.
Ketika krisis mulai berakhir dan perekonomian beranjak stabil, dan pada 2006 ayahnya kembali melakoni usaha pakan ternak yang mengakibatkan usaha ikan hias menjadi terbengkalai dan ditutup.
Ai yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa mengamati usaha ikan hias berprospek cerah. Pasar yang dimiliki pun, khususnya luar negeri, masih terbuka lebar karena baru sekitar 40% ikan hias yang diekspor ke luar negeri. Ai pun berkeinginan untuk menjalankan kembali usaha ikan hias yang dilakukan ayahnya.
Usaha yang digelutinya pada awalnya dilakukan berdasarkan pesanan. “Saat ada pesanan, saya baru akan mencari ikan hias yang diinginkan pembeli,” jelas Ai.
Ai mengaku tidak mengalami kesulitan dalam mendapatkan ikan hias pesanan. Untuk memenuhi pesanan, Ai membelinya dari pembudidaya ikan hias di sekitar Jabodetabek.
Dalam menjalankan usaha ikan hias ini, Ai tidak tanggung-tanggung karena ia langsung membidik pasar luar negeri sebagai target penjualan ikan hiasnya. Untuk bisa mendapatkan pasar ikan hias luar negeri, Ai mencarinya melalui media internet dan ia kerap menyambangi situs-situs eksportir ikan hias khususnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan lain-lain.
Dan, kerja keras Ai menawarkan ikan hias Indonesia kepada negara lain membuahkan hasil dan mendapatkan respons dari perusahaan ikan hias asal Thailand.
Tak hanya itu, di awal 2011 lalu Ai berhasil menjalin bekerja sama dengan perusahaan ikan hias yang sudah memiliki nama dan bisa dibilang terbesar di Singapura, yaitu Qian Hu Corporation Limited. Menurut Ai, jenis ikan hias yang disukai oleh pasar luar negeri antara lain neon tetra, black ghost dan lain-lain.
Chivalry Pranoto mencoba meraih mimpi untuk memiliki usaha lewat pasar hobi yang ia temukan dari berbagai pengalaman yang ia lalui bahkan hingga belajar ke beberapa negara yang diperoleh lewat ketekunan dan kerja kerasnya.
Ai akhirnya berhasil menjadi salah satu eksportir ikan hias yang sukses. Dalam menjalankan usahanya ini, Ai berprinsip untuk selalu memberikan yang terbaik kepada konsumen dan tentunya kepercayaan juga merupakan nilai yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha.
Dari perjalanannya memasarkan ikan hias, gagasan baru muncul. Usahanya pun kemudian berkembang dengan mengembangkan tanaman hias air. Ai Pranoto mendirikan Aquatic Plant Centre Indonesia (APCI).
APCI merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pertanian khususnya pengembangan tanaman aquarium atau banyak yang menyebutnya sebagai tanaman air atau tanaman aquascape. Perusahaan ini berhasil mengembangkan beraneka jenis tanaman air yang memang disukai oleh buyer, sehingga jelas diserap oleh pasar.
Tanaman hias air asal Indonesia ternyata diminati oleh masyarakat luar negeri. APCI yang berlokasi di Sentul, Bogor Jawa Barat termasuk perusahaan yang rutin mengirimkan tanaman air ke Amerika Serikat. Tak hanya Amerika, perusahaan ini juga berhasil mengekspor tanaman air ke Jepang, Belanda, Jerman, Polandia, Ceko dan Kanada. Bahkan mulai merambah ke benua Afrika.
“Industri tanaman air belum banyak berkembang di Indonesia, padahal peluang pasarnya cukup tinggi. Industri ini termasuk salah satu contoh ekonomi kreatif, membuka banyak lapangan kerja dan tidak merusak lingkungan,” ungkap Chivalry Ai Pranoto.
Semangat untuk memberikan kebermanfaat untuk masyarakat sekitar menjadi salah satu visi Chivalry dengan mempekerjakan banyak masyarakat di sekitar dan bekerja sama dalam magang dan recruitment lulusan Sekolah Vokasi IPB University yang merupakan almamaternya. ***