Ateng Sutisna

Berjuang Wujudkan Ekosistem Hutan dan Lingkungan yang Berkeadilan

Ateng Sutisna merupakan legislator DPR RI periode 2024–2029 dari Fraksi PKS yang membawa misi besar dalam mewujudkan ekosistem lingkungan dan energi berkelanjutan. Lahir di Majalengka pada 6 Maret 1961, perjalanan hidupnya berakar dari harapan sang ayah yang menginginkannya menjadi "mantri hutan". Meski awalnya dijalani dengan setengah hati, pendidikan di Fakultas Kehutanan dengan jurusan Manajemen Hutan IPB University 1982-1987 akhirnya menumbuhkan kecintaan mendalam pada dunia konservasi. Kemandirian yang terasah sejak masa sekolah di Cirebon hingga masa kuliah di Bogor menjadi fondasi karakter tangguh dalam menghadapi tantangan profesional di masa depan.

Saat menyusun skripsi, Ateng bekerja sambil belajar di PT Adisanggoro, sebuah perusahaan konsultan kehutanan di Bogor yang dimiliki oleh pembimbing skripsinya, Alm. Dr. Ngadiono. Di bawah bimbingan dosen sekaligus mentornya itu, kemampuan profesional Ateng dalam bidang kehutanan dan lingkungan hidup tumbuh pesat. Pengalaman tersebut menjadi tonggak penting yang mengubah jalan hidupnya. Enam tahun setelah lulus dari IPB pada tahun 1987, ia memberanikan diri mendirikan perusahaan sendiri bernama PT Sarbi Moerhani Lestari, konsultan kehutanan yang tetap eksis hingga kini. Dari sana, kiprahnya terus berkembang.

Ia mendirikan delapan perusahaan di sektor kehutanan dan lingkungan, antara lain PT Carudi Bangun Belantara, PT Cakra Abdi Pertiwi, PT Tjarata Adiguna Nusantara, PT Hantarja Candra Gemilang, PT Sarbi International Certification, PT Mangole Timber Lestari, dan PT Kelola Sumberdaya Indonesia. Seluruh perusahaan ini bergerak di bidang kehutanan, lingkungan hidup,  rehabilitasi hutan dan lahan, pembibitan tanaman, hingga sertifikasi kehutanan. Hal ini mencerminkan dedikasinya untuk mewujudkan kelestarian hutan yang berkelanjutan.

Meski telah sukses sebagai pengusaha, Ateng tidak berhenti menimba ilmu. Setelah meraih gelar S-1 Manajemen Hutan IPB (1987), ia melanjutkan pendidikan S-2 Administrasi Bisnis di IPWI (1993), dan kini masih aktif menempuh studi S-2 Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah Sukabumi (2024–2026). Kesungguhannya menuntut ilmu di tengah kesibukan profesional menunjukkan keyakinannya bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

Dalam dunia politik, Ateng kini mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), mewakili Dapil Jawa Barat IX (Sumedang, Majalengka, Subang). Ia ditempatkan di Komisi XII DPR RI, dengan fokus perjuangan pada isu-isu lingkungan hidup, energi, dan sumber daya mineral. Komitmennya jelas: memperjuangkan ketahanan energi nasional, energi yang terjangkau, serta tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Di luar dunia kehutanan, Ateng mewarisi nilai kerja keras dari ayahnya, seorang kepala desa di Majalengka, yang juga menurunkan kecintaan pada aspek budaya lokal melalui peternakan domba garut. Ia berhasil mengembangkan Padepokan Domba Garut di lima wilayah berbeda, menyelaraskan semangat konservasi dengan pelestarian budaya. Kiprah organisasinya pun sangat luas, mencakup kepemimpinan di Himpunan Konsultan Kehutanan Indonesia, Masyarakat Perhutanan Indonesia, hingga peran pakar dalam himpunan peternak dan tani, yang semuanya bermuara pada pengabdian bagi masyarakat dan lingkungan.

Dalam perjalanan karier dan organisasi, kiprahnya sangat luas. Ia dipercaya sebagai Ketua Umum Himpunan Konsultan Kehutanan Indonesia (1998–sekarang), Wakil Ketua Masyarakat Perhutanan Indonesia (1998–sekarang), Ketua Kompartemen Tanaman Kehutanan dan Perkebunan Asosiasi Perbenihan Indonesia (2003–sekarang), Anggota Dewan Pakar Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (2009–sekarang), Wakil Ketua Departemen Agribisnis dan Pangan Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (2023– 2028), serta Dewan Pembina Himpunan Kerukunan Tani Indonesia cabang Bogor (2024– 2029). Semua jabatan itu dijalani dengan satu napas pengabdian: memberi manfaat bagi masyarakat, lingkungan, dan dunia usaha kehutanan yang beretika.

Kisah hidup Ateng Sutisna adalah potret nyata dari seseorang yang menemukan panggilannya melalui proses panjang: dari dorongan ayahnya untuk menjadi mantri hutan, dari pengalaman bekerja di bawah hujan, hingga menjadi pengusaha dan legislator yang berjuang bagi kelestarian lingkungan. Bagi Ateng, hutan bukan sekadar sumber daya, tetapi ruang kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan. Dari Majalengka hingga Bogor, dari hutan ke parlemen, jejak langkahnya menunjukkan satu hal: bahwa kerja keras, kejujuran, dan ketulusan adalah bibit yang selalu berbuah, di mana pun ia ditanam.

 

 

Tinggalkan Komentar