Menjaga Samudra, Membangun Bangsa: Maritim sebagai Jalan Pengabdian
Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.AP. merupakan sosok pemimpin maritim yang lahir di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, pada 26 Mei 1960. Tumbuh dalam lingkungan keluarga wirausaha penyamakan kulit dan konveksi yang disiplin, ia telah mengasah kemandirian sejak usia remaja dengan memikul tanggung jawab besar dalam usaha keluarga. Meskipun awalnya memiliki rencana menempuh pendidikan umum di bidang teknologi atau perkulian, takdir membawanya masuk ke Akademi Angkatan Laut (AKABRI Laut) dan lulus pada tahun 1983 sebagai Letnan Dua. Karakter kuat yang terbentuk sejak kecil menjadi fondasi utama dalam meniti karier panjang di dunia militer yang penuh tantangan.
Ketekunan beliau dalam bidang akademis sangat menonjol di tengah kesibukan dinas operasional di kapal perang. Ade Supandi berhasil menuntaskan pendidikan Sarjana Ekonomi di Surabaya, Magister Administrasi Publik di Universitas Hangtuah, hingga mencapai puncaknya dengan meraih gelar Doktor Manajemen dan Bisnis dari Sekolah Bisnis IPB pada tahun 2020. Kehausan akan ilmu ini juga terlihat dari rekam jejak pendidikan militernya yang sangat komprehensif, baik di dalam negeri melalui Seskoal dan Sesko TNI, maupun di luar negeri. Beliau tercatat pernah menempuh pelatihan strategis di Belanda, Amerika Serikat, Jerman, hingga Australia, yang secara signifikan memperkuat wawasan globalnya mengenai strategi pertahanan laut dan modernisasi armada.
Karier militernya dimulai dari jabatan teknis di KRI Monginsidi-343 hingga dipercaya menjadi komandan di berbagai kapal perang strategis seperti KRI Malahayati-362 dan KRI Ahmad Yani-351. Kapabilitas kepemimpinannya membawa beliau menduduki posisi-posisi krusial, mulai dari Gubernur Akademi Angkatan Laut, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur, hingga Kepala Staf Umum TNI. Puncaknya, pada 31 Desember 2014, beliau dilantik oleh Presiden RI sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal). Selama menjabat, beliau tidak hanya fokus pada kekuatan fisik armada, tetapi juga melakukan pembaruan fundamental pada doktrin organisasi, termasuk revitalisasi Core Value "Trisila TNI AL" dan pengembalian semboyan legendaris "Jalesveva Jayamahe" sebagai pijakan moral prajurit.
Dalam kehidupan pribadi, kesuksesan Ade Supandi tidak lepas dari dukungan penuh istrinya, Dra. Endah Esti Hartanti Ningsih, yang dinikahinya pada tahun 1990. Meskipun sempat menjalani perjuangan jarak jauh di awal pernikahan karena tugas negara, keluarga kecil ini tumbuh harmonis dengan dua anak yang kini telah mandiri sebagai dokter gigi dan perwira TNI AL. Di luar rutinitas militer, beliau tetap mempertahankan minat masa kecilnya pada dunia elektronika dan literasi, serta senantiasa menanamkan nilai kerendahan hati kepada keluarga. Baginya, keluarga adalah sumber kekuatan utama yang mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati harus didasari oleh ketulusan untuk melayani tanpa mengecewakan diri sendiri.
Setelah memasuki masa purna tugas pada Mei 2018, dedikasi beliau terhadap bangsa tetap berlanjut melalui berbagai organisasi strategis. Beliau aktif menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan PPAL Pusat, pengurus di Kadin Kelautan dan Perikanan, serta menjadi Komisaris Independen di beberapa perusahaan besar. Selain itu, kontribusinya di dunia pendidikan terus mengalir sebagai dosen bela negara dan pembina di berbagai lembaga akademis. Berbagai tanda kehormatan dari dalam dan luar negeri, termasuk penghargaan dari Korea Selatan, Malaysia, dan Brazil, serta gelar adat dari berbagai daerah di Nusantara, menjadi bukti nyata atas pengabdian tanpa batas Laksamana Ade Supandi dalam menjaga kedaulatan maritim dan membangun karakter bangsa Indonesia.