Berjualan Bunga Demi Bisa Beli Es Lilin

Wanita kelahiran Lampung ini berhasil menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Ekologi Manusia dengan studi Ilmu Gizi Masyarakat, IPB University. Bisa dibilang, perjalanan karir dan akademisnya sangat cemerlang. Tapi siapa sangka, saat masih anak-anak, Ir. Suharti, MA, PhD, pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Seperti apa ceritanya?

Mantan Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Pengendalian Kependudukan dan Permukiman, Suharti, resmi menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Selasa (24/8/2021). Ia merupakan perempuan satu-satunya yang menjabat sebagai Sekjen Kemendikbudristek. Perjalanan hidupnya tak mudah, ia berasal dari keluarga miskin di desa terpencil di Lampung, tepatnya di Kabupaten Pringsewu.

Suharti dijuluki sebagai wanita teladan. Ia dibesarkan dalam keluarga miskin di desa terpencil, namun dia tak pernah mau menyerah pada keadaan. Suharti tak terjebak pada kebiasaan pernikahan anak di daerahnya. Ia justru bertekad melanjutkan pendidikan dengan beasiswa World Bank.

Suharti memperoleh gelar Sarjana Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga dari IPB University angkatan 1987. Kemudian, memperoleh gelar Master di bidang Applied Economics dari University of Michigan, Ann Arbor, USA angkatan 1999 dan PhD dari Australian National University, Canberra, Australia di bidang Demografi dan Penelitian Sosial angkatan 2013.

Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

Ia salah satu pejabat yang aktif memberikan edukasi mengenai Covid-19 melalui akun media sosialnya. Dia juga pernah membagikan pengalaman masa kecilnya melalui akun instagram @suhartisutar.

Dia mengunggah foto es lilin berwarna oranye dengan caption “Menikmati es lilin mangga buatan Mbak Yuni.  Alhamdulillah sekarang kalau ingin es lilin, es tung-tung, atau es krim ​​bisa beli atau bikin tanpa kesulitan,” tulisnya.

“Dulu jaman kecil, saat masih di SD, kalau pingin es lilin harus usaha dulu cari uang. Itupun biasanya belinya paruhan sama teman. Gak mampu beli utuh. Cari uangnya gimana? Sama teman-teman cari bunga lalu dijual ke nenek-nenek penjual bunga makam,” lanjutnya.

“Kalau punya uang jajan juga tidak bisa sesukanya jajan karena ada 2 teman yatim piatu yang hidupnya lebih susah lagi. Kalau bukan mukjizat apalagi coba yang membuat emak-emak ini punya kehidupan seperti sekarang? Alhamdulillah,” pungkasnya.

Tapi siapa sangka, kehidupannya bisa berubah drastis. Tentu itu tak secara tiba-tiba. Suharti berhasil membuktikan jika tekad serta usaha harus dilakukan secara beriringan. Sikap serta ilmu yang mumpuni membawanya kepada kesuksesan, baik dalam hal karir maupun pendidikan.

Sampai sekarang, Suharti terus melakukan terobosan program untuk meningkatkan kesetaraan gender di semua sektor melalui pendidikan dan perencanaan pembangunan nasional. Ia juga pernah mengikuti beberapa program kegiatan Diklat Fungsional, di tahun 2006 ia pernah mengikuti Training on Education Finance and Decentralization in Asia. Kemudian di tahun 2007 ia mengikuti tiga pelatihan yaitu: Leadership Development Training Program, Training on Monitoring and Evaluation for Better Education Policy, Planning and Results, Bali, Indonesia, juga International Program for Development Evaluation Training (IPDET). Pada tahun 2008, ia juga mengikuti Training on Medium Term Expenditure Framework and Performance Based Budgeting,Cjeju Island and Seoul, South Korea.